Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Kamis, 09 Juni 2011

Tentang Makassar Nol Kilometer

MAKASSAR NOL KILOMETER
Editor: Anwar J. Rachman, M. Aan Mansyur, Nurhady Sirimorok
Penerbit: Ininnawa-Tanahindie
Juni 2011 (edisi revsi)
273 halaman

Walaupun ayah berasal dari Bali dan ibu dari Toraja, namun saya lahir dan besar di Makasar, sehingga boleh dikata Makassar adalah kampung halaman saya. Selama kurang lebih dua puluh delapan tahun menetap di kota yang terkenal dengan sebutan Anging Mamiri ini ternyata tak membuat saya menjadi seorang guide yang baik untuk teman-teman dari daerah atau negara lain yang sedang mengunjungi Makasar. Suatu ketika saya mengajak seorang teman dari Surabaya yang sedang bertugas di kota ini selama beberapa hari menikmati indahnya sunset pantai Losari.
Saat berjalan-jalan di trotoar sepanjang jalan Penghibur tersebut, tiba-tiba dia menanyakan mobil berwarna biru yang cukup banyak lewat di jalanan. Saya lalu menjelaskan bahwa itu adalah mobil angkutan umum yang di Makasar disebut dengan 'pete-pete'. Dia menganggukkan kepala dan sambil melangkahkan kakinya, dia kembali bertanya: "kenapa bisa disebut pete-pete?". Saya terdiam, lalu sambil mesem-mesem menjawab: " wah, kalau itu saya tidak tahu".
Sebagai orang yang menyebut diri orang Makasar, saya merasa malu tak bisa menjelaskan asal muasal kenapa angkot di sini disebut pete-pete, padahal saban hari saya menggunakan kendaraan ini untuk beraktifitas. Itu baru pete-pete, belum lagi dengan istilah-istilah atau fenomena yang terjadi di Makasar ini, banyak hal yang belum saya ketahui ternyata. Apalagi bagi pendatang yang mesti bekerja atau menghabiskan waktu selama beberapa minggu, bulan bahkan tahun, tentunya cukup kesulitan memahami dan beradaptasi dengan kota Makasar.
Beruntung, tak begitu lama keresahan saya segera terobati dengan hadirnya buku 'Makassar Nol Kilometer' yang dikeluarkan oleh Media Kajian Sulawesi bekerja sama dengan Penerbit Ininnawa. Sebuah buku yang menurut saya cukup lengkap mendokumentasikan budaya kontemporer Makasar, memotret berbagai kejadian dan fenomena yang (mungkin) hanya terdapat di Makasar. Bahkan dari buku ini saya menemukan jawaban mengapa angkutan umum di Makasar disebut pete-pete.
Sebagai orang Makasar, saya cukup akrab dengan sebagian besar tema-tema yang diangkat dalam tulisan ke-14 penulis muda di buku ini, namun hanya pada permukaannya saja. Seperti misalnya Payabo, saya sering mendengar orang menyebutkannya, tetapi saya baru mengetahui bahwa Payabo atau pemulung ini punya komunitas dan memiliki bahasa sendiri setelah membaca buku ini. Sama halnya sewaktu saya membaca bagian kuliner yang membahas tentang Legenda Sop Saudara. Sebagai seorang pencinta makanan Sulawesi Selatan, seminggu sekali biasanya saya bersama teman-teman atau keluarga menikmati hidangan yang mirip dengan Coto Makasar ini tanpa sedikitpun tahu mengapa dinamakan Sop Saudara. Barulah di buku tersebut saya mendapatkan penjelasannya.
Seorang kawan blogger yang baru beberapa bulan datang dari Jakarta bercerita kepada saya bahwa setelah membaca buku Makassar Nol Kilometer dia merasa sangat terbantu dalam beradaptasi dan bergaul dengan masyarakat kota Makasar. Awal-awalnya dia kesulitan memahami bahasa gaul dan istilah-istilah yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, seperti penggunaan kata tambahan 'mi, di, to, ko..' atau istilah 'atas dan bawah' yang menunjukkan lokasi daerah. Sekarang dia sudah cukup lancar menggunakan bahasa prokem Makasar dan sangat membaur dengan masyarakat sekitarnya.
Buku ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Komunitas yang membahas mengenai kelompok atau komunitas yang cukup menonjol di Makasar karena memiliki ciri khas sendiri, seperti supoter PSM yang terkenal dengan kefanatikannya pada tim Juku Eja-nya, penyabung ayam, payabo, dan lain-lain. Bagian berikutnya mengetengahkan Kuliner atau Makanan dan Minuman khas seperti Ballo, Songkolo Bagadang, Coto Makasar, Jalangkote', Sop Saudara, Pisang Epe', dan lainnya.
Bagian ketiga yakni Fenomena yang merekam berbagai kejadian yang terjadi sejak bertahun-tahun lalu yang menjadi kebiasan atau fenomena di kota ini. Bagi pemakai kendaraan di Makasar pasti sudah sering mengalami mobil-motor yang dikendarai atau ditumpangi mesti menepi bila menjumpai iring-iringan pengantar mayat, sebab bila nekad tak meminggirkan kendaraan kemungkinan besar mobil atau motor akan dipukuli dengan kayu yang dibawa oleh iringan motor-mobil pengantar mayat tersebut. Itu hanya salah satu fenomena yang ada, dibuku ini juga dibahas mengenai fenomena radio Gamasi yang menurut survey yang pernah dilakukan menduduki ranking tertinggi radio favorit di Sulsel, juga ada kisah berburu Cakar, Upacara Pernikahan, Bahasa Prokem, Pete-pete, dan lainnya. Bagian keempat yaitu Ruang yang memotret kisah bangunan dan tempat-tempat yang memiliki keunikan cerita tersendiri seperti Paotere, Pondokan Mahasiswa, Pasar Cidu, Pasar Senggol, Tanjung Bayang, dan sebagainya.
Membaca buku Makassar Nol Kilometer ini tak membuat kening berkerut sebab bahasa yang digunakan rata-rata adalah bahasa umum dan walaupun terdapat beberapa bahasa daerah atau bahasa prokem Makasar tetapi selalu diiringi dengan penjelasan dalam bahasa Indonesia sehingga memudahkan bagi pembaca yang bukan berasal dari Makasar. Berbagai model tulisan yang terdapat didalamnya, mengutip apa yang ditulis oleh editor, tak lain lantaran beranekanya latar belakang ke-14 penulisnya. Keberagaman model tulisan ini hanya membuat beberapa tulisan yang menjadi sedikit berbeda, misalnya tulisan Muh Nur Abdurrahman yang mengisahkan Suporter PSM dan tulisan Aan Mansyur mengenai Iringan Mayat. Oleh Aan Mansyur kisah pengantar iringan mayat ini dibuat menjadi seperti bagian dari sebuah cerpen keseharian seorang tokoh saya yang sedang menikmati kopi di sebuah café, sementara kisah suporter PSM ini dibuat dalam bentuk seperti laporan peliputan khusus. Tapi, perbedaan penulisan ini tadi tak membuat kita kehilangan detail atau informasi berharga mengenai topik-topik yang diangkat tersebut.
Pengalaman sebagian besar penulisnya yang sudah cukup sering menulis diberbagai media lokal di kota ini menjadikan buku ini layak untuk dijadikan sebagai buku wajib untuk Dinas Pariwisata Makasar dan masyarakat, utamanya yang tertarik dengan Antropologi atau Sosiologi sebab selain menjadi buku pertama yang mengkaji budaya-pop Makasar dan juga membuat kita lebih paham lagi akan budaya lokal terutama bagi orang-orang seperti saya yang mengaku sebagai seorang Makasar.
Usaha Media Kajian Sulawesi dan Penerbit Ininnawa yang memotret karnaval budaya-pop Makasar ini patut diacungi jempol. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan keberadaan suatu zaman dengan berbagai fenomena dan kejadian yang mungkin akan bertahan sampai cucu-cicit atau mungkin akan hilang dikemudian hari. Harga yang cukup terjangkau membuat buku Makassar Nol Kilometer ini sangat asyik dibaca sambil mengisi waktu menunggu waktu berbuka puasa atau sekedar menjadi bahan diskusi kecil-kecilan di warung kopi dekat rumah, atau buat kawan yang berkunjung ke Makasar pun sangat pas bila dioleh-olehi buku ini. Yang pasti, sejak membaca buku ini saya menjadi lebih pede untuk menemani kawan dari daerah lain yang datang berkunjung. Bagaimana dengan anda? 

(Ni Nyoman Anna Marthanti)
(Tulisan ini sejatinya resensi NNAM tak lama setelah penerbitan cetakan pertama buku ini. Sumber: http://bz.blogfam.com/2006/10/makassar_nol_kilometer.html, akses 2 Juni 2011)
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

4 komentar: on "Tentang Makassar Nol Kilometer"

nyomnyom mengatakan...

Kak Jimpe..ku share nah.. baru ka baca lagi ini, hehehe
sekalian buat promo bukunya

Anonim mengatakan...

dimanaki bisa beli buku ini kak??

Anonim mengatakan...

bagaimana cara'y memesan ini buku kak?? tlg kasih info ke no 085242772313..

perlu skalika ini buku.. thanx

Andika Setiawan mengatakan...

Tabe... saya mau izin, bisa tidak saya pake judul buku ini ?, saya mau selipkan dan diadaptasikan menjadi sebuah judul komik kartun untuk menunaikan tugas akhir saya... namun isi cerita dan karakternya dari perspektif saya sendiri.

trimakasi sebelumnya.
klw bisa kasi info ke no 085656229980

Posting Komentar