Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Kamis, 02 Juni 2011

Lokalitas dalam Arus Global



MAKASSAR adalah sebuah kota metropolis. Kota yang tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, niaga dan jasa, tetapi juga menjadi arena bagi bertemunya orang-orang dengan latar kepentingan dan kebudayaan yang beragam. Pertemuan kepentingan dan kebudayaan yang beragam itu selain melahirkan corak kehidupan yang juga amat beragam, mewujudkan pula karakter kebudayaan yang akulturatif. Semangat tradisional hadir secara tindih-menindih dengan semangat modernitas.
Sebagian dari corak kehidupan kota Makassar yang beragam dan karakter kebudayaan yang akulturatif itulah yang dituangkan oleh sejumlah penulis dalam Makassar Nol Kilometer.
Secara umum buku ini menguak empat isu utama : komunitas, kuliner, fenomena, dan ruang. Walau demikian, keempat isu itu tidak digarap berdasarkan pretensi akademik yang lebih fokus menelaah hal-hal yang mainstream, tetapi lebih berorientasi bagi upaya merekam dan mengungkap denyut kehidupan yang khas dan unik di Kota Makassar.
Perihal kehidupan komunitas yang tergolong khas Makassar adalah kelompok maniak bola, pendukung separuh mati kesebelasan PSM. Mereka itu, sesaat setelah PSM keluar sebagai pemenang saat bertanding di lapangan Andi Mattalatta (dulu stadion Mattoanging), berkonvoi keliling kota dengan deru bunyi kendaraan yang memekak telinga tanpa peduli rambu lalu lintas, dan seolah kelompok mereka sajalah yang berhak atas jalan raya.
Gejala yang unik berlaku pula pada kelompok waria, mereka amat kreatif memperbaharui kode-kode komunikasi di antara mereka. Mereka yang kini setiap malam berkumpul di sudut lapangan Karebosi, tidak lagi mengerti kode komunikasi pendahulu mereka yang telah pensiun menggumuli kehidupan malam di Karebosi. Itu terjadi karena kode bahasa yang digunakan akan mereka perbarui manakala telah dipahami oleh komunitas lain di luar komunitasnya.
Hal yang lebih unik lagi adalah gaya hidup warga Makassar yang seolah terbelah dalam dua kutub ekstrim, yaitu Utara mewakili gaya hidup kelas menengah bawah dan Selatan mewakili kelas menengah atas. Misal, selera musik anak-anak Utara adalah dangdut. Akronim dari dendang orang-orang tersudut. Sementara anak-anak Selatan lebih mengapresiasi musik pop, country, rock, dan jazz.
Kuliner. Sungguhpun Kota Makassar telah diserbu oleh makanan-makanan impor, makanan fast food yang secara sosial mengemban citarasa kelas menengah atas, namun makanan-makanan khas yang merupakan warisan dari leluhur Bugis-Makassar, seperti pallu basa, coto, sop saudara, ikan bakar dan lainnya, tetap bertahan dan diminati oleh masyarakat. Karena itu makanan tersebut banyak disajikan di berbagai warung makan pojok hingga kelas restoran, dan bahkan selalu tersaji di setiap acara syukuran dan upacara yang bersangkut paut dengan siklus kehidupan (aqiqah, sunatan, perkawinan, dan juga upacara kematian). Gejala itu mengisyaratkan bahwa ada hal yang relatif sulit berubah dalam diri manusia – meskipun dihantam oleh arus kuat globalisasi – yakni selera makan. Memang, telah menjadi aksioma di kalangan ahli antropologi nutrisi bahwa jenis dan menu makanan yang selalu dikonsumsi oleh anak manusia sejak belajar mengonsumsi makanan di luar air susu ibu, hingga berusia balita akan membentuk selera makan mereka, dan selera makan itu sangat sulit berubah.
Isu yang berkenaan dengan fenomena yang juga unik di Kota Makassar adalah orang-orang yang mengantarkan mayat ke tempat pembaringannya yang terakhir. Raungan mobil ambulans di tengah jalan berada di tengah kendaraan para pengiring jenazah. Bagian depan mobil jenazah, kendaraan roda dua melaju dengan kecepatan rata-sekitar 70 km per jam, dan selain seolah mau menggunakan seluruh badan jalan, juga hendak menabrak seluruh pengguna jalan yang searah dan berlawanan arah dengannya. Kendaraan yang dilewatinya harus segera menyingkir ke sisi tepi jalan. Tak menyingkir, berarti siap menerima bala. Dari segi normatif agama, seyogyanya orang-orang yang berada di jalan dan sedang larut tenggelam dengan urusan duniawiah, saat berpapasan dengan mayat akan segera berefleksi tentang nisbinya dunia dan kemudian mendoakan almarhum/almarhumah agar selamat di haribaan ilahi, malahan yang terjadi adalah sebaliknya. Hatinya murka, dan acap terlontar ungkapan dari mulut mereka, “sudah meninggal masih menyusahkan orang”.
Perang antar kelompok, juga merupakan fenomena unik di Kota Makassar. Unik karena tidak hanya menjadi suatu kebiasaan bagi anak remaja yang bermukim di daerah slum, tetapi fenomena itu selalu muncul saat bulan ramadan—bulan suci, bulan penuh rahmat dan hidayat—saat mereka baru saja menunaikan salat tarawih dan salat subuh. Perang antar kelompok tercipta tidak lama setelah mereka menyebut asma Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang serta juga mengucapkan salam di akhir salat. Dua dari sekian banyak simbol ibadah yang mestinya dimaknai sebagai keharusan umat manusia berikhtiar mewujudkan kehidupan saling mengasihi di antara sesama, dan menyelamatkan seluruh ciptaan Allah dari kerusakan.
Fenomena tawuran di Kota Makssar, bukan melulu menjadi milik anak-anak yang tumbuh di daerah kumuh, melainkan diadopsi pula oleh mahasiswa di hampir seluruh perguruan tinggi di Makassar. Fenomena itu sungguh rumit dijelaskan dengan menggunakan logika normal. Sebab, selama ini mahasiswa diklaim sebagai generasi terdidik dan tercerahkan, tetapi tindakannya masih saja mengikuti naluri primitif.
Satu sisi dari tata ruang di Kota Makassar yang menarik adalah menjamurnya Mall dan tempat perbelanjaan modern lainnya. Hanya saja tulisan tentang itu lebih fokus pada riwayat kehadirannya di Kota Makassar, ketimbang dampaknya bagi warga kota yang mungkin sudah mulai terpapar dengan gaya hidup konsumtif dan hedonis, serta efeknya bagi keberadaan pasar tradisional. Serupa halnya dengan tulisan tentang pasar tradisional—pasar yang transaksinya dilakukan melalui proses tawar menawar antara pihak penjual dan pembeli—lebih mengungkap riwayat keberadaan pasar dan denyut kehidupan di seputar arena pasar. Kurang menyelam lebih jauh ke hal-hal yang dialami, dirasakan, dan diharapkan oleh pelaku-pelaku di pasar tesebut yang menjual barang yang juga dijual di Mall dan pasar modern lainnya.
Secara umum, buku ini memang mengungkapkan banyak hal tentang denyut kehidupan Kota Makassar, namun informasi yang dipaparkan terkesan lebih banyak didapatkan melalui pengamatan dan wawancara sambil lalu. Akibatnya kurang terungkap sisi dalam dari gejala-gejala kehidupan warga Kota Makassar. Walau demikian, buku ini telah memberikan sumbangan yang amat penting, setidaknya sebagai 'pembuka pintu' bagi para akademisi dan pemerhati kehidupan perkotaan untuk menyelam lebih dalam, dan mengungkapkan realitas yang tersembunyi di balik berbagai gejala sosial yang unik dan khas di Kota Makassar.
Terakhir, buku ini juga berguna buat orang-orang, utamanya dari luar Makassar, yang ingin tahu banyak hal-hal khas tentang Makassar. Layak dijadikan tour guide buat para pelancong, domestik atau internasional.


*Dosen Antropologi Universitas Hasanuddin, Makassar dari Panyingkul! (www.panyingkul.com) edisi Kamis, 10-08-2006.
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Lokalitas dalam Arus Global"

Posting Komentar