Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Minggu, 01 Mei 2011

Tiga Tanda Menguak Takdir Pembacaan Bahasa (Bugis)

Salah satu hal terpelik dalam transliterasi bahasa Bugis ke huruf Latin adalah bagaimana menuliskan bunyi hamzah seperti dalam kosa lontara. Apakah menggunakan [ ‘ ] glottal stop (lontara'), mengimbuhkan huruf q (lontaraq), atau pakai k saja sudah cukup (lontarak)?
Dalam bahasa Bugis, bunyi hamzah umumnya berada di akhir kata dasar; di tengah kata dasar yang diikuti klitik ku’, mu’, na, dan ta’; dan kata majemuk, jika kata pertama berakhir bunyi hamzah kemudian bersinggungan dengan kata yang mengikuti, maka bunyi hamzah tetap muncul (Hadrawi, 2008).
Muhlis Hadrawi dalam Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis [hl. 49] merinci tiga contoh tentang pemakaian ini. Fahruddin Ambo Enre adalah cendikiawan yang memakai q (lihat disertasi Ambo Enre “Ritumpanna Welenrenge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo” [1999]); Matthes (1874 dan 1875) memakai apostrop [ ` ]; tanda hamzah [ ‘ ] digunakan Noordyun (1955:4); dan huruf k dipakai oleh Ide Said (1977).
Para cendikiawan dan pengguna sama. Dalam naskah panduan pementasan I La Galigo karya Robert Wilson di Benteng Fort Rotterdam 23-24 April 2011 lalu, saya mendapati penulisan nama Patotoqe (Dewa Penentu Nasib). Tapi versi ini jejaknya tampak terang. Kemungkinan ini berdasar pada transliterasi Muhammad Salim-Fachruddin AE, I La Galigo terbitan Djambatan tahun 1995. Sirtjo Koolhof dalam Pendahuluan (hl. 44) mengatakan, cara transkripsi yang digunakan untuk edisi ini sama yang dipakai oleh Tol (1990:129-132) berdasarkan transkripsi Fachruddin AE (1983:93-107). Selain itu, dua tiga kali saya juga pernah bersua beberapa tulisan media nasional maupun daerah yang memakai k menuliskan kata lontarak.
Topik ini sempat pula jadi perbincangan di Ininnawa. Saya ingat benar, Aslan Abidin pernah mengatakan bahwa betapa genit orang-orang yang menggunakan q dalam alih aksara bahasa Bugis atau Makassar menjadi huruf Latin. “Selalu membuat terbata-bata kita membacanya,” kilah Aslan, yang kini jadi staf pengajar di Universitas Negeri Makassar.
Sejak 2005, tersebab masalah rasa kebahasaan (termasuk pengucapan), Penerbit Ininnawa menggunakan glottal stop. Tak ada alasan jelas mengenai ini melainkan lebih nyaman bagi kami sebagai pengguna aktif bahasa Bugis (karena sebagian besar Ininnawa adalah terlahir dari keluarga Bugis).
Sekira tiga tahun kemudian, penggunaan ‘koma atas’ itu saya negosiasikan dengan Muhlis Hadrawi dalam proses awal penyuntingan. Saya menegosiasikan ini di Kantin Sastra Unhas. Hadrawi adalah penyusun Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Ininnawa, 2008). Ketika itu, naskah yang diambil dari tesis pasca sarjananya di Universitas Indonesia (UI) masih menggunakan q.
“Teman-teman di Ininnawa kebetulan di aliran naskah lontara’ berglottal stop, Kak,” bujuk saya.
Tanpa saya sangka, Hadrawi langsung mengiyakan.
Saya pun pulang dengan lega. Bagi kami, betapa janggalnya menulis huruf q dalam naskah yang akan kami publikasikan.
Pada kisaran April 2011, saya bertemu lagi Hadrawi. Kali ini dia mendatangi Penerbit Ininnawa, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E Makassar.
“Ternyata sudah cocok pakai glottal stop seperti di Assikalaibineng. Saya pernah tanya pembimbing (tesis) saya, katanya pengucapan yang biasa muncul dalam kosa kata Bugis adalah penanda bunyi. Bukan huruf. Kalau memang huruf, itu akan mengubah arti beberapa kosa kata Bugis karena ada imbuhan di belakang kata dasar,” jelas Hadrawi.
Sayangnya saya lupa contoh yang Hadrawi ajukan tentang penjelasan tadi. Tapi, sebagai gambaran, ini dapat kita lihat bersama dari perbedaan huruf dan tanda itu dalam kata lumpe’ (Bgs., lompat). Bandingkan perbedaan arti kata lumpe’ diimbuh i menjadi lumpe’i ([sesuatu/seseorang] melompat) dengan mengubah tanda hamzah menjadi huruf q dan k dalam lumpeqi/lumpeki (melompati).
Saya pikir, ini alasan terkuat yang pernah saya dengar selama enam tahun terakhir menyuntuki naskah-naskah sejarah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di Penerbit Ininnawa. Tidak seperti alasan seorang cendikiawan, berdasarkan cerita Aslan, yang kurang lebih mengatakan: “Pemakaian q dalam bahasa Bugis karena huruf q jarang kita dipakai.”
Sesungguhnya, merugilah saya menjadi kaum yang mengikuti imam berdalih seperti ini.[]

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

5 komentar: on "Tiga Tanda Menguak Takdir Pembacaan Bahasa (Bugis)"

Anonim mengatakan...

Teman-teman Ininnawa yang baik. Saya ingin menyumbangkan sedikit pada diskusi q k '. Pertama-tama kita harus membedakan bunyi fonem yang ada dalam bahasa Bugis, yaitu glottal stop pada akir suku kata, dan huruf yang melambangkan salah satu fonem. Pada dasarnya setiap lambang atau huruf bisa digunakan untuk salah satu fonem, asal dapat dibedakan dari fonem yang lain.
Lalu, mengapa dalam edisi La Galigo kami gunakan huruf q untuk melambangkan fonem glottal stop dalam transkripsi bahasa Bugis, dan bukan huruf k atau '? Ada alasan teoretis, dan ada yang praktis.
Huruf 'k' tidak dipilih karena kalau ada tambahan dengan suffiks (akiran kata), kadang-kadang 'muncul' huruf 's', 'r', atau 'k'. Misalnya: baluq - balureng, balukeng; leppeq - leppesseng; lappaq - lappareng; dst. Karena itu, huruf k kurang cocok untuk melambangkan fonem glottal stop, karena selain 'k', ada juga 's' dan 'r' yang 'di bawah' fonem glottal stop itu.
Sisa pilihan antara apostrof ' dan huruf 'q'. Tanda apostrof dalam tulisan bahasa Bugis dengan huruf Latin juga dipakai sebagai tanda petik. Berarti bisa memunculkan ambiguitas dan keanehan. Seperti: 'malebbi'', atau ambiguitas 'Taro a' ménré' ri sao kuta pareppa'é': di mana kutipan berakhir?
Selain menghindari ambiguitas dan keanehan dalam ejaan ada alasan praktis juga untuk memilih huruf 'q' sebagai lambang fonem glottal stop. Alasan itu berhubungan dengan zaman computer: dalam konvensi digital lambang apostrof tidak dihitung sebagai huruf, berarti tidak menjadi bagian dari kata. Misalnya nama Patoto'e dijadikan dua kata: Patoto dan e; sama halnya dengan kata pareppa'e dalam kutipan di atas.
Sisa satu huruf yang paling cocok untuk melambangkan fonem glottal stop dalam bahasa Bugis, yaitu huruf q: 1 dalam beberapa bahasa memang digunakan untuk melambangkan glottal stop; 2 karena tidak dipakai dalam bahasa Bugis yang ditulis dengan huruf Latin untuk fonem yang lain (tidak ada ambiguitas); 3 dapat melambangkan fonem 'di bawah' (s, r dan k); dan 4 secara praktis dalam file digital q diperlakukan sebagai huruf-huruf yang lain, berarti jadi bagian integral kata-kata.

Sekian sumbangan untuk diskusi di kalangan Ininnawa.

Seleng pole ri Leiden, Balanda,

Sirtjo Koolhof

Anonim mengatakan...

Pak Sirtjo Koolhof yang baik,

Terima kasih banyak atas sumbangan pemikiran dan beberapa penjelasan terkait obrolan tentang [‘], [k], dan [q] kita.

Singkat saja, ada dua hal yang masih kurang jelas bagi kami (redaksi Ininnawa) dari tanggapan Pak Sirtjo. Pertama, kekhawatiran akan munculnya ambiguitas bila menggunakan apostrof sebagai petik. Ini bisa menghindarinya dengan memiringkan (italic) kata tertentu.
Cara lain yang kerap kami pakai bila apostrof menjadi bagian kutipan. Kami membuat tanda kutip dua koma sejajar [“] terpisah dari apostrof, misalnya “… malebbi’ “.
Pertanyaan kedua saya yakni seberapa jauh pengaruh keterbacaan huruf atau tanda dalam sistem prosesor komputer sekarang? Maaf saya belum mengerti tentang ini, Pak Sirtjo. Saya pikir, komputer hanya membaca dan mencetak yang terketik dalam layar. Apakah berpengaruh pada kertas atau media lain yang tercetak?

Sekian sementara tanggapan dan pertanyaan kami.

Salama’ dan kurru sumange’,

Anwar J Rachman
Ininnawa

sansalisa mengatakan...

Sukkuru' maraja ri dewata Allah Ta'ala, rigau' pada engkata mua mannawa-nawa, inennia pada makkuraga,ilainnaetopa tupada siparingngerrang sarekkuammengngi natallebba oki ogie.
Engkaro waseng madeceng, nasaba' naiyya okie engkairitu laherenna saddae, jadi namomani maga jorirenna narekko weddingngi mappaddupa tanra oni sadda iyyanatu wedding ripake.
Engka 5 ana' sure' baru naebbue silessuretta alena L. A. Sanrang S. Weddingngitu tajelling-jelling ri lalenna (WAREKKADAKKU) LIMA ANAK SURAT BARU DALAM BAHASA DAERAH BUGIS http://sansalisa.blogspot.com/

Bahasa Toraja mengatakan...

Bukan cuma bahasa Bugis dan Makassar yang mengalami masalah dengan penggantian tanda hamzah dengan q, bahasa Torajapun mungkin lebih parah lagi karena menimbulkan kesalahpahaman bagi penuturnya. Penggunaan huruf q menurut C. Salombe' dan J. Sande (pelopor penggunaan huruf q dalam bahasa Toraja), krn sudah merupakan suatu keputusan oleh pakar2 bahasa sesulawesi selatan.
Orang Toraja sebagai penutur bahasa toraja sudah terbiasa dan sampai sekarang menggunakan tanda hamzah, hanya saja orang2 non toraja (bukan penutur bahasa toraja) justru menulis bahasa toraja menggunakan huruf q seperti buku2 pelajaran yang dicetak/diterbitkan oleh orang non toraja sehingga mengacaukan bahasa toraja bagi penuturnya

Penjelasannya dapat di lihat di:
http://bahasatoraja.blogspot.com/2012/02/abjad-dan-ejaan-bahasa-toraja_20.html

Ishaq Asri mengatakan...

Saya juga memiliki masalah dalam penulisan glottal stop. Saat saya menulis buku Patettongenna Sumpajang Waji'e, saya menggunakan huruf Latin karena target pembacanya adalah remaja di desaku yang kurang fasih membaca aksara Lontara' dan pada saat yang sama juga kurang memahami bahasa Indonesia baku dan istilah-istilah fiqih yang digunakan dalam buku-buku berbahasa Indonesia. Pendidikan mereka hanya sampai SD, bahkan ada yang tidak pernah sekolah dan belajar membaca secara otodidak.

Dalam penulisan glottal stop, saya menggunakan lambang apostrof. Dalam penggunaan lambang ini, ada 3 masalah yang saya temui, yaitu:

1. Sebagaimana pernyataan pak Sirtjo, tanda ['] juga digunakan sebagai tanda petik. Pembaca saya seringkali bingung ketika tanda ['] sebagai glottal stop berdekatan dengan tanda ['] sebagai tanda petik. Jika saya berikan spasi di antara keduanya, terlihat aneh karena adanya spasi sebelum tanda kutip penutup merupakan sesuatu yang tidak lazim ditemui.

2. Ketika dua buah vokal berdekatan dan kedua vokal tersebut tidak dibaca diftong maka saya gunakan tanda ['] sebagai pemisah di antara keduanya. Masalahnya, pembaca terkadang membacanya sebagai glottal stop padahal saya tidak menggunakannya sebagai glottal stop. Contoh: siri'e. Dalam dialek Bone timur (Palakka dan sekitarnya), kata siri tidak mengandung glottal stop di akhir kata. Huruf i di akhir kata dibaca panjang dua harakat. Akhirnya, saya menggunakan tanda [-] untuk memisahkan dua vokal itu, namun hal ini juga menimbulkan masalah baru (masalah no. 3).

3. Sebagaimana pernyataan pak Sirtjo, lambang apostrof tidak dianggap sebagai sebuah huruf oleh komputer. Ketika di tengah kata terdapat tanda apostrof dan [-] maka komputer menganggapnya sebagai dua buah kata. Hal ini menyebabkan adanya kesalahan komputer dalam menghitung jumlah kata dalam dokumen. Terkadang penulis ingin mengetahui berapa jumlah kata dalam artikel atau buku yang ditulisnya. Selanjutnya, bahasa Bugis belum masuk dalam paket bible pengolah kata Latex sehingga ketika penulis menggunakan pengolah kata Latex seringkali terjadi kesalahan dalam pemenggalan kata. Untuk mengatasi hal ini, penulis dapat menggunakan perintah \hypenation untuk mendefinisikan pemenggalan kata yang benar. Masalahnya, ketika sebuah kata mengandung apostrof dan [-] maka perintah \hypenation tidak dapat digunakan karena dapat menyebabkan error dalam proses pengompilasian dokumen Latex ke bentuk PDF.

Demikian. Dimohon komentar dan sarannya. Salama'ki' topada salama'.

Posting Komentar