Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Kamis, 09 September 2010

Mencari yang Hilang dalam Syair Perang Mengkasar

Syair karya juru tulis Sultan Hasanuddin, Enci’ Amin, berjudul Syair Perang Mengkasar (SPM), diterbitkan Penerbit Ininnawa Agustus 2008. Sebagai rangkaian penerbitan, dilangsungkan bedah buku selama tiga hari berturut-turut oleh tujuh pemakalah di Gedung Pusat Kegiatan Penelitian Unhas, 27-29 Oktober lalu. Berikut catatan rangkuman diskusinya.

Keadaan Global Abad ke-16 dan 17
Dalam tinjauan konteks dunia abad ke-16, Agussalim Burhanuddin, dosen Hubungan Internasional Unhas, dengan berkelakar mengatakan bahwa seandainya penduduk Maluku dan sekitarnya menebang saja pohon-pohon cengkih, kayu manis, pala, dan lada yang ada di wilayah mereka, niscaya orang-orang Eropa tidak datang ke Maluku.
Kedatangan bangsa Eropa ke Maluku mulai ketika mereka mengenal adanya spice (rempah-rempah) di India. Romawi-lah yang mula memperkenalkan barang ini, kendati tidak tahu datang dari mana. Yang mereka paham, rempah itu dari Mesir—yang merupakan jajahan Romawi dan memakai jajahannya itu untuk keluar mencari rempah-rempah. Sayangnya, kemudian, mereka susah mendapatnya dikarenakan Perang Salib. Perang ini memperburuk pasokan bumbu-bumbu ke Eropa. Ottoman menutup akses yang mengakibatkan harga rempah-rempah melambung sebab susah didapat di pasaran.
Rempah-rempah yang mahal tersebab juga oleh perjalanan panjangnya. Pertama kali tercium hidung bangsa Eropa ketika berinteraksi dengan pedagang Arab dan Turki. Dari dua bangsa itulah mereka terdengar informasi bahwa ragam bumbu itu diperoleh di sebuah tempat di Timur Jauh, bernama India. Tapi lantaran nama Nusantara belum ada di masa itu, maka untuk menyebut Maluku, para pedagang tadi menamainya sebagai India Timur.
Sementara India mendapatnya dari Malaka. Sementara para saudagar di semenanjung Melayu itu memerolehnya dari pedagang yang bergerak ke Timur. Dari sini dapat dibayangkan, bahwa harga mahal adalah hal pantas mengingat perjalanan jauh dan lama yang ditempuh oleh komoditas yang satu ini; itu pun dengan mengandalkan transportasi laut yang bertumpu pada angin musim dan diperburuk oleh bahaya yang mengancam sepanjang pelayaran.
Pada 1581, tujuh provinsi Spanyol; Belgia, Holland, Zeeland, Groningen, Friesland, Utrecht, Overrijssel, dan Gelder, membentuk Republik Tujuh Tanah Rendah. Ke tujuhnya punya pemerintah dan otonomi sendiri, namun memiliki perwakilan yang duduk di pemerintah konfederal, Staaten-Generaal, di The Haque (Den Haag).
Pada 1595, Belanda memulai pelayaran sendiri mencari rempah-rempah ke India. Cornelis de Houtman bersama empat kapal dagang mencari jalur rahasia. Semuanya menjadi mudah karena di antara anak buah kapalnya terdapat kru yang berkebangsaan Spanyol dan Portugis yang memandu mereka mencapai Nusantara. Namun, dari 248 ABK yang ikut ekspedisi, hanya 89 orang yang kembali ke Eropa setelah mereka rasa rempah-rempah untuk didagangkan sudah cukup. “Secara ekonomis, pelayaran pertama merugi. Tapi insting bisnis para anggota Staaten mengirim 22 kapal untuk menguasai pasar di India Timur, yaitu Indonesia sekarang,” papar Agus.
Pelayaran yang kedua inilah kemudian mencari titik tumpu cengkeraman kekuasaan Belanda di Nusantara. Pada 20 Maret 1602, Staaten-Generaal menyetujui pembentukan Vereenigde Oostindische Compangnie (VOC). Sebenarnya, VOC hanyalah sejenis badan usaha yang terdiri dari perusahaan kecil yang mewakili enam provinsi di Belanda. Tapi perusahaan ini menjadi istimewa karena punya hak spesial, serupa hak yang dimiliki oleh sebuah negara, yakni wewenang berangkatan bersenjata, berhak menyatakan perang dan damai dengan suatu negara, berhak menarik pajak, serta membuat mata uang sendiri. Keistimewaan inilah yang menarik mereka masuk dalam pusaran Perang Makassar.

Perang Makassar
Perang Makassar sendiri terjadi karena VOC ingin menguasai Makassar sebagai pelabuhan dan pasar terpenting komoditas rempah-rempah. Dalam sebuah sumber, dosen pengajar Ilmu Sejarah Unhas, Edward L Poelinggomang mengatakan bahwa harga rempah-rempah di Makassar di zaman itu lebih murah ketimbang di negeri asalnya, Maluku.
Mengapa demikian? Rupanya, menurut Edward, strategi ini adalah praktik awam yang biasa dilakukan supermarket dan gudang rabat di masa sekarang. “Ada komoditas yang dijual dan berharga sangat murah untuk menarik para pembeli. Harga barang lain dijual mahal untuk menebus kerugian yang diderita barang yang berharga murah. Begitu juga yang terjadi di Makasar masa itu. Rempah-rempahlah sebagai pemikat orang-orang luar mau datang ke Makassar dan menjadikan pelabuhannya begitu ramai,” ungkap lelaki bercambang ini.
Ramainya pelabuhan itu memungkinkan adanya pertukaran ide dan, juga, teknologi; yang memungkinkan Gowa menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara ketika itu. Sistem perbentengan Gowa begitu maju, mengadopsi sistem yang dikembangkan oleh Portugis dengan sistem fortifikasi berlapis. Benteng Somba Opu dikawal oleh Benteng Ujung Pandang di sebelah utara dan Benteng Panakkukang di selatan, ditambah Benteng Kale Gowa, Benteng Anak Gowa, Benteng Mangara Bombang, Benteng Barombong, dan Benteng Garassi. Model kura-kura yang diadopsi oleh Benteng Ujung Pandang, dengan anjungan-anjungan yang menjorok demi melindungi sisi-sisi benteng adalah ciri khas benteng Portugis. Pada 1610, Gowa juga sudah membangun pabrik bedil. “Karena itu, keliru jika menyebut bahwa Eropa memandang sebelah mata Gowa,” jelas Agus.
VOC harus menderita kerugian yang dahsyat karena perang yang disebut Speelman sebagai perang yang mengalahkan perang yang pernah terjadi di Eropa. Namun semua itu terbayar lantaran bobolnya Somba Opu (200-an meriam dirampas) dan penguasaan kendali terhadap pasar rempah-rempah di Nusantara, sekaligus memunculkan VOC sebagai serikat dagang terbesar di dunia. Pada 1669, VOC memiliki 150 armada kapal dagang, 40 kapal perang, dan 10 ribu serdadu dari berbagai bangsa. Sejak didirikan 1602 hingga 1669, papar Agus, VOC mengeruk keuntungan tahunan tak pernah di bawah 12 persen. Bahkan beberapa kali mencapai 63 persen.
Perang Makassar yang berlangsung pada 1667-1668, yang diakhiri dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya, menelan korban begitu banyak. Dari segi hukum humaniter, perang ini sangatlah tidak manusiawi, lantaran dari satu babak ceritanya disebutkan bahwa ribuan orang di Pulau Makassar (sebuah pulau di perairan Teluk Buton) ditinggalkan begitu saja tanpa makanan dan bekal lain.
Disebut ribuan di sini sebab dalam data yang diajukan Cornelis Speelman, ada sekitar 5000 orang ditinggalkan begitu saja di Pulau Makassar (Teluk Buton). Sementara Prof Mattulada menyebut 9000 orang. “Tapi bukan angka yang akan kita perdebatkan di sini. Tapi peristiwa itu benar-benar ada dan sungguh tidak manusiawi,” tegas dosen Fakultas Hukum Unhas ini. Meski belakangan diakui, mencari data yang terkait humaniter itu sulit benar.

Syair Perang Mengkasar
Tak lama setelah kejatuhan Kerajaan Gowa, Enci’ Amin, kerani Sultan Hasanuddin, menulis syair yang hampir seluruhnya berima a-a-a-a, sepanjang 2136 baris. Usai membaca buku SPM, Ahyar Anwar, dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM), mengungkapkan tiga pertanyaan terkait buku ini.
Pertama, mengapa ada sastra Melayu muncul di Gowa? Sementara sastra lokal ada di Makassar. Di lain sisi pula, komunitas Melayu di Makassar sudah ada. Karenanya, bagaimana peran komunitas ini membantu Hasanuddin melawan VOC? Kedua, kalau betul telah ada sastra Melayu, pasti ada sasaran pembaca. Ketiga, bagaimana memosisikan syair untuk memandang konteks kepahlawanan. “Saya tidak yakin, Enci’ Amin menulis karena disuruh Hasanuddin,” tegas Ahyar.
Menurutnya, ia banyak menemukan kata Aceh dalam syair itu. Bahasa Minang bahkan. Hal ini sendiri bagi Ahyar sesuatu yang ganjil. Karena sastra Melayu tidak hadir di Gowa; hanya ditulis di Gowa. “Kemungkinan besar syair itu tidak ditulis bukan untuk orang Makassar, tapi untuk orang Sumatera,” begitu dugaan Ahyar.
Dugaannya ini dikuatkan oleh Manuskrip S yang hampir sebagian dari syair itu ada di Ambon. Oleh karenanya, ada kemungkinan Enci’ Amin, setelah Gowa runtuh, segera pindah ke kota itu. Sehingga sebutan Enci’ Ambon tak lain Enci’ Amin sendiri.
Ahyar pun menyatakan tentang persetujuan penuhnya dengan pendapat editor syair tersebut, C Skinner, bahwa Enci’ Amin menulis sastra klasik Melayu rendah. Wajar jika ia tidak terlalu terkenal di dunia sastra Melayu klasik. Bahkan ia mencoba melacaknya dalam buku khasanah Melayu klasik dan tak menemukan nama Enci’ Amin, lelaki yang dianggapnya sebagai Islam fanatik.
Mengapa demikian? Karena Gowa adalah kerajaan Islam, jadi wajar jika Enci’ Amin, yang digambarkan sebagai lelaki pendek yang pesolek, menulisnya dengan penuh emosi. Beberapa gambaran impresionistik terhadap masing-masing tokoh ada dalam SPM. Sultan Hasanuddin selalu penuh pujian, Arung Palakka digambarkan dengan hampir seluruhnya negatif, dan Speelman sepenuhnya buruk.

Pahlawan dan Pengkhianat
Syair Enci’ Amin memang sangat subjektif. Ini tentu mengingat posisinya sebagai juru tulis Sultan Hasanuddin. Namun di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan sendiri, perdebatan tentang pahlawan atau pengkianatkah Arung Palakka, tak lebih bagai debat akut: yang mana duluan “ayam telur” atau “telur ayam”. Sepertinya, papar Aslan, terletak pada penggunaan kata pahlawan maupun pengkhianat yang melampaui suatu fase evolusi kebangsaan Indonesia. “Bagaimanapun, Palakka adalah warga negara Kerajaan Bone. Ia berjuang ketika ia sama sekali belum mengenal negara Indonesia,” kata Aslan.
Lantas mengapa Hasanuddin menjadi pahlawan nasional Indonesia? Paling mungkin dikarenakan rekayasa-manipulasi, terutama pemaknaan terhadap sejarah oleh penguasa Indonesia. Skinner pun mengutip pandangan Mainstone, kuasa dagang Inggris di Makassar, yang mengatakan Hasanuddin adalah “raja yang kurang cerdas”.
Aslan, dalam diskusi dan bedah buku yang dihadiri beragam kalangan, termasuk mahasiswa Unhas, mengungkapkan, rekayasa keindonesiaan itu berlanjut dengan menjadikan nama Hasanuddin sebagai merek Universitas Hasanuddin. Penamaan ini sendiri dianggap sangat ironis, mengingat Speelman yang menyebut Hasanuddin “hanya sedikit mengecap pendidikan pada masa kecilnya, dan akibatnya, kurang terlalu pintar”. Tawa hadirin diskusi pun meledak.
Pada sesi pertanyaan, Amiruddin, mahasiswa Fakultas Sastra mempertanyakan penamaan Bugis dan Makassar, yang menurutnya sangat politis karena digunakan oleh Speelman. Bahkan kemudian dikotomi itu subur dan terasa hingga sekarang, seperti halnya ketika pemilihan gubernur. “Apa yang sebaiknya kita lakukan, wacana apa yang sebaiknya dibangun?” tanya Amiruddin.
Jawaban pertama datang dari Ahyar, bahwa dalam kasus ini bukan hanya perang antara Bugis dan Makassar saja, sebab Enci’ Amin sendiri menyebut juga Sumbawa dan Maluku. Namun dalam diskusi ini, tambah Ahyar, kita dapat merefleksikan bahwa orang biasa yang melakukan sesuatu yang berguna bagi orang banyak dapatkah diapresiasi oleh negara dan disebut sebagai pahlawan.
Jawaban Ahyar dipertegas lagi oleh Aslan bahwa perang ini bukanlah dikotomi etnik. Hal-hal dikotomi sudah dibangun sejak lama. Ini bisa dilihat dari tulisan para penulis pendahulu yang selalu menyebut “Bugis-Makassar”, seolah-olah itu adalah satu etnis. “Kita perlu berhati-hati terhadap hegemoni kekuasaan negara, yang baru dibentuk juga, dengan selalu memuja pahlawan yang selalu disebut berjuang, tapi mengorbankan banyak nyawa,” tanggap Aslan.
Namun perang ini sendiri, dalam pandangan Muhlis Hadrawi, yang melakukan kajian pada tiga teks, Syair Perang Mengkasar, Lontara’ La Side’, dan Sinrilik Kappala Tallumbatua mengatakan, sebenarnya konflik yang terjadi bukanlah karena seteru yang bermula dari Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin; melainkan orang terdekat Raja Gowa. Sinrilik Kappala Tallumbatua menyebut Karaeng Botolempangan yang menghasut Sultan, sedang dalam Lontara’ La Side’ adalah Karaeng Karunrung.
Diceritakan bahwa Arung Palakka dan Hasanuddin adalah kawan sepermainan di masa kecil. Semua itu dimungkinkan sebab orangtua Arung Palakka, Arung Tanatengngae tinggal di Bontoala sebagai tawanan. Suasana nyaman masih dirasakan Arung Palakka ketika Karaeng Pattingaloang masih hidup. Ketika karaeng yang terkenal karena haus ilmu pengetahuan itu meninggal dan diganti oleh Karunrung, keadaan terbalik justru dialami Arung Palakka sekeluarga. Ia pun berjanji untuk membebaskan dirinya, keluarga dan rakyat Soppeng dan Bone dari ikatan kekuasaan Gowa.
Terminologi ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ sendiri, oleh Edward Poelinggomang di hari kedua diskusi, dianggap masih perlu dikelola. Menurutnya, istilah ini muncul pertama dalam Perjanjian Bungaya, bagian siasat adu domba Belanda. Catatan Portugis menyebutkan bahwa Kalimantan adalah pulau Makassar yang luas. Sementara nama Bugis pertama datang dari kata ‘Bayo’, lalu orang Portugis menyebutnya ‘Buyuus’, sementara di lidah Belanda menjadi ‘Bugvis’.

Mengapa Syair Perang Mengkasar Ditulis?
Pada diskusi hari ketiga, Nurhady Sirimorok memberi penegasan terkait dugaan yang disampaikan Ahyar Anwar di hari pertama, perihal Enci’ Amin yang menulis SPM untuk pembaca Melayu. Ia pun mengajukan bantahan disertasi Skinner yang mengatakan bahwa Enci’ Amin menuliskannya demi sang patron, Sultan Hasanuddin. Wajar jika dalam SPM, syair itu tidak berkosakata Bugis atau Makassar. Syair itu pun tidak begitu dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Teori Skinner cukup meragukan. Pertama, posisi Hasanuddin di akhir perang itu tidaklah begitu kuat. Justru Karaeng Karunrung-lah yang menjadi tokoh sentral Gowa selama dan setelah perang. Kedua, berdasarkan gambaran Speelman, Hasanuddin kurang tertarik terhadap keilmuan. “Mungkin dia tidak akan membaca syair itu, atau tidak akan sabar duduk mendengar bait-bait syair itu dibacakan,” sanggah Nurhady.
Kalau begitu, untuk siapa syair itu ditulis? Mari simak bait SPM berikut ini:

Sudahlah kalah negeri Mengkasar
Dengan kodrat Tuhan malik al-jabar
Patik karangkan di dalam fajar
Kepada negeri yang lain supaya terkhabar


Menurut Nurhady, terdapat kemungkinan bahwa syair itu ditujukan komunitas Melayu yang tersisa di Makassar dan di kawasan lain. “Dia bisa jadi bukan penulis sejarah, melainkan lebih seperti orang yang menulis reportase kepada jaringan-jaringannya,” jelas Nurhady.
Karena tak lama setelah jatuhnya Gowa, Heather Sutherland memaparkan bahwa masyarakat Melayu yang ada segera menghambur ke daerah lain, di Spermonde, Masalembo, Sabutung, Maros, Mandar, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Ambon—kota yang ditengarai sebagai tempat Enci’ Amin merampungkan syair tersebut lantaran SPM lebih banyak ditemukan dan tersebar di Maluku. Berdasarkan catatan Speelman, ada 33 pria Melayu yang masih bermukim di Makassar begitu perang usai.
Orang-orang Melayu yang ada di Makassar ketika itu memiliki dua peran, yaitu membawa jaringan dan pengetahuan dagang yang luas. Tradisi dagang inilah yang juga menyertakan pengajaran agama di kalangan masyarakat Gowa. Ketika raja-raja di Sulawesi Selatan memeluk Islam di awal 1600-an, orang Melayu kemudian memegang peranan semakin besar. Bukan saja menjadi konsultan dan rekan dagang, tapi juga sebagai pendidik agama Islam bagi anak-anak bangsawan Gowa dan Tallo.
Nurhady pun mengungkapkan, berdasarkan hasil pembacaannya terhadap SPM, ada beberapa hal yang hilang dan tidak tercatat dalam syair ini. Pertama, Enci’ Amin tidak menulis hal rinci terkait perang kolosal itu, semisal racun dan mesiu, berikut model dan bagaimana model membunuhnya. Menurutnya, Leonard Andaya dengan memanfaatkan naskah lama semasa Perang Makassar bisa membangun detail dan merekonstruksi jalannya perang itu. Seabad setengah setelah Perang Makassar, Raja Ali Haji dalam Salasilah Melayu Bugis menulis cukup detail siasat perang yang dipakai Bugis-Johor ketika berperang melawan angkatan perang Siak.
Kedua, Enci’ Amin pun tidak menulis tentang latar ekonomi Perang Mengkasar. Padahal, ia sangat mungkin untuk memaparnya karena Enci’ Amin mengenal seluk beluk perdagangan di Makassar. Ketiga, sang juru tulis luput menulis terkait anak dan perempuan. Ada banyak perempuan yang turut membantu dalam perang itu, seperti merawat pasukan yang luka, menguburkan pejuang yang tewas. “Bahkan mereka tidak lagi memakai sarung, melainkan celana, yang artinya siap sedia untuk ikut berperang ketika dibutuhkan,” ungkap Nurhady.
Mengapa kesemua hal itu tidak tercatat dalam syair? Jawabannya hanya sekalimat saja: sejarah, seperti biasa, selalu mencatat orang penting dan tokoh pembesar saja, tak peduli pada orang biasa.[]

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Mencari yang Hilang dalam Syair Perang Mengkasar"

Posting Komentar