Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Jumat, 20 Agustus 2010

Ulang Tahun Satu Dekade Ininnawa

Komunitas Ininnawa berulang tahun. Umurnya sepuluh tahun. Beberapa komunitas ikut berpartisipasi dalam beberapa rangkaian acara Satu Dekade Komunitas Ininnawa. Alasannya sederhana: Ininnawa tumbuh dan belajar dari lingkaran dan lingkungan kecil yang ada di sekitarnya. Ini laporan kegiatannya.

Satu Dekade berlangsung tiga hari. Membuka hari pertama, 10 Februari 2010, kilasan foto ragam kegiatan juga perjalanan Komunitas Ininnawa, sejak bermarkas di Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea Blok N.14 hingga di tempat besar Jalan Perintis Kemerdekaan Km-9 No.76 Makassar.
Selesai sesi itu, digelar diskusi buku Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya (Ininnawa, Desember 2009). Pembedahnya Aslan Abidin dari Universitas Negeri Makassar, Wahyuddin Halim sehari-hari mengajar di Universitas Islam Negeri Alauddin, dan Yahya Kadir dosen antropologi di Universitas Hasanuddin.
Sayang sang penulis Susan Bolyard Millar, tidak bisa hadir. Namun bantuan dan hubungan lewat email dengan Pak Hafied A Gany, Ibu Susan mengirim email panjang berbahasa Inggris. Kata Susan dalam suratnya, bahasa Indonesia-nya banyak hilang. Sudah 30 tahun tidak ia pakai.
Dalam suratnya, Susan menceritakan penelitiannya di Soppeng mulai awal Juni 1974. Ia bersama suaminya, Terry, dan putrinya, Jessica tinggal di sana hingga Mei 1975. Awalnya mereka tinggal sementara di rumah Raja Kecamatan Takalala. Di akhir Juni, mereka berkenalan dengan Andi Abdullah Gany, salah seorang tau matoa penting yang pensiunan polisi. Andi Abdullah dan Tante Dowie, istrinya, kemudian menawarkan rumahnya menjadi tempat tinggal Susan selama meneliti. Berikut nukilan bagian-bagian suratnya yang penting dalam Indonesia:
“... Tante Dowie menjadikan kami sebagai anggota keluarga besarnya, yang tinggal di dalam dan di sekitar rumah panggung indahnya. Saya kagum pada kegiatan di dapur Tante Dowie, tempat putri kami, Jessica menghabiskan banyak waktu, berjongkok seperti perempuan dan anak lainnya ketika menyiapkan makanan, bercerita, dan membuat segala macam keputusan. Karena saya dan suami tidak bercakap bahasa Inggris siang harinya, Jessica kecil menjadi fasih berbahasa Bugis dan Indonesia serta tidak belajar bahasa Inggris ketika itu. Bahkan, ketika kami meninggalkan Sulawesi, Jessica menerjemahkan bahasa Bugis ke dalam bahasa Indonesia untuk suami saya, Terry, yang tidak berkapasitas luar biasa seperti halnya kanak-kanak yang belajar bahasa baru...
Kendati karier saya telah membawa saya ke arah yang berbeda, tinggal di Sulawesi Selatan, dan berlanjut dengan pekerjaan dan persahabatan yang mengikuti penelitian periode awal merupakan bagian pengalaman yang penting dalam pengembangan profesional dan intelektual, serta kehidupan pribadi saya. Saya selamanya berutang budi kepada Puang Andi Abdullah Gany), Tante Dowie, dan sekarang Hafied, ditambah lagi orang-orang yang lain, karena saya telah berkesempatan—melalui buku asli saya dan sekarang dalam terjemahan bahasa Indonesia, menyempatkan orang lain becermin pada dunia budaya indah orang-orang Bugis...”
Dalam sesi bedah buku, Wahyuddin Halim mengatakan perkawinan Bugis menjadi arena perjudian dan pelelangan sosial di masyarakat Bugis. Kompleksitas dalam perkawinan banyak ditegakkan di atas simbol-simbol irrasional yang menonjolkan karakter munafik dan feodalistik. Berjudi dengan pesta besar demi gengsi dan doi passolo, “melelang” anak untuk mereka yang bisa membayar dengan harga tinggi demi mobilitas vertikal sang orang tua, sang anak, dan juga sang cucu di tengah ketidakmampuan mempertahankan identitas dan eksistensi diri dalam arus deras modernisasi dan globalisasi.
Yahya mengajukan pertanyaan, mengapa di era modern kini—era yang menjunjung tinggi rasionalitas, efisiensi, dan efektivitas—pesta perkawinan yang menguras energi sosial dan ekonomi keluarga tetap dipertahankan oleh orang Bugis?
Kebudayaan kekuasaan adalah untuk melanggengkan kekuasaan. Jadi gelar bangsawan itu dilanggengkan secara kultural. Yahya, seraya mengutip Foucaultm mengatakan, wacana itu langgeng bila ditopang oleh kekuasaan.
Dalam konteks Bugis, Ruth Benedict membuat tipe orang Bugis itu sebagai agresif dan paranoid. Pernyataan itu berdasarkan atas fenomena bahwa mengapa perkawinan orang Bugis itu sangat vulgar; industrialis kapitalis dan konsumtif.
Adapun Aslan Abidin mengatakan, menikah adalah jalur melepaskan libido karena kepuasan menjadi tujuan. Lantas pernikahan dijadikan sebagai pentas, yang bagi Susan, dianggap sebagai permainan yang melibatkan pertarungan dan semua orang mendapat peran dan imbalannya. Ada pertarungan status bagi orang Bugis disebut “ma’bua carita”—yang di dalamnya ada cerita status seseorang beserta pengaruh-pengaruhnya.
Usai acara bedah buku, Food Not Bomb digelar. Jarum jam menunjuk tengah hari. Makanan siap di meja. Siapa pun boleh mengambil makanan. Semangat yang diusung gerakan FNB adalah bagaimana warga bisa mendapat makanan dengan mudah. Omong kosong apa yang telah dilakukan dan dikatakan pemerintah tentang makanan bahwa terjadi krisis dan makanan kian tipis. Pemerintah seperti tidak sadar bahwa ada mekanisme yang warga lakukan untuk memeroleh dan mengolah makanan.
Hal itu pula yang dilakukan FNB. Dengan meminta pedagang Pasar Terong agar tidak membuang jualan mereka yang rusak. Jangan sampai mubazir. Bahan-bahan makanan itu masih sangat berguna.
Dan hari itu, makanan yang bisa didapatkan adalah sayur wortel penuh gizi disantap para undangan atau pengunjung Satu Dekade. Nasi yang dibawa para pendukung FNB dari rumah masing-masing menjadi menu utama. Penganan tambahan semisal kolak, menjadi penutup yang manis FNB.
Makanan-makanan FNB juga menjadi konsumsi para penonton di malam harinya, di malam sastra dan musik.

Pola hari pertama berjalan di hari kedua. Sesi pertama adalah bedah buku. Judulnya Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit. Ininnawa beruntung kali ini. Dari sekian buku yang Ininnawa terbitkan, baru kali ini hadir penulisnya langsung.
Namanya Kees Buijs. Lelaki berkebangsaaan Belanda ini datang bersama penerjemahnya, Ronald Arulangi. Ronald adalah pria asli Mamasa.
“Daerah Rantepao sudah banyak sekali penelitian. Bahkan ‘banjir’ antropolog. Tidak ada perhatian khusus ke Mamasa padahal mereka satu akar kemuliaan,” jelas Buijs mengawali.
Di Rantepao perkembangan lebih cepat. Unsur-unsur kemuliaan sudah banyak perubahan. Sebagai contoh bentuk rumah di Rantepao banyak berubah. Satu abad lalu masih sama bentuknya. Tapi karena keyakinan orang di sana terlalu cepat berubah di zaman modern, dan memberi perhatian pada rumah-rumahnya, perubahan ini dapat di rumah-rumah mereka. “Ini soal gengsi!” cetus Buijs.
Sementara Ronald Arulangi mengatakan, minatnya menerjemahkan buku itu didorong oleh karena Ronald merupakan orang Mamasa yang lahir di lingkup masyarakat Makassar. Saya belum dapatkan buku tentang Mamasa. Ada misionaris seperti Buijs yang tertarik mempelajari Mamasa tanpa tendensi teologis. “Buku ini memberi kosmologi yang sebenarnya. Apalagi Mamasa sekarang sudah dirambah oleh para ekonom, politikus, dan lainnya,” kata Arulangi.
FNB berlangsung begitu acara bedah buku ditutup. Menunya hampir sama dengan sajian di hari kedua, karena bahan makanan yang diserahkan para pedagang Terong begitu banyak. Sehari saja bisa sampai tiga karung. Kendati sebenarnya tidak semua bisa dipakai karena ada yang rusak. Tapi semangat dari gerakan ini sungguh menyentuh intisarinya.
“Ada juga pedagang yang menyerahkan dagangan mereka yang masih bagus. Mereka pikir mereka sayang sekali kalau menyerahkan bahan yang rusak. Mereka menganggap tidak pantas. Kami sangat maklumi alasan itu. Tapi itu tugas kita sebenarnya, memberi penjelasan lebih lagi soal ini,” ujar Ridho, partisipan FNB hari itu.
Malamnya, tampil Luna Vidya membawakan monolog. Seperti biasa, salah seorang monolog terbaik Makassar itu tampil memukau.
Tampil juga berikutnya adalah Abdi Karya dkk. Mereka berjalan kaki dari sekitar Lapangan Karebosi menuju Tamalanrea, markas Komunitas Ininnawa. Tempat itu berjarak 10 kilometer. Abdi Karya dkk memilih jarak itu karena Ininnawa sedang berulang tahun yang ke sepuluh. Selama perjalanan yang menguras keringat ini, mereka merekamnya dengan kamera segala geliat dan aktivitas di perjalanan. Foto bertema senang, perihal kesedihan, perpisahan, pertemuan, sampai foto bermain-main disertai narasi dibawakan Abdi Karya malam itu. Sungguh kado ulang tahun untuk Ininnawa yang sarat makna.
Tak kalah seru adalah sajian lagu-lagu berbahasa Makassar dari penyanyi daerah, Sese Lawing. Yang hadir bertepuk riuh. Sese adalah penyanyi daerah yang awalnya berdomisili di Jakarta. Sekira dua tahun terakhir beraktivitas di Makassar dan daerah leluhurnya, Jeneponto.

Di hari ketiga, dua buku terbitan Ininnawa dibahas sekaligus, Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan—kumpulan tulisan para peneliti Sulawesi Selatan—dan Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000, buku karya Thomas Gibson.
Tampil pembedah hari itu adalah Nurhady Sirimorok dan para penggiat AcSI, Ishak Salim dan Zulhajar aka Ichul. Menurut Nurhady, Thomas Gibson dalam Kekuasaan Raja mencoba membentangkan pengetahuan yang sebenarnya kita tidak sadari. Jenis pengetahuan tradisional berasal dari percampuran Austronesia, India (Majapahit dan Sriwijaya) yang kini masih hidup.
Ini pula menjadi bantahan atas Webber. Menurut tesis Webber, pengetahuan bertingkat, yakni tradisional, agama, dan modern. Modern tertinggi, kata Webber.
“Tapi Gibson tidak demikian. Ia melihat ketiganya hidup bersamaan. Dan masing-masing punya kemanjurannya sendiri-sendiri. Tesis Webber tentang jenis-jenis kekuasaan benar-benar bermasalah, terutama ketika mengkaji tentang pengetahuan tradisional dan Webber tidak memiliki riset dalam kajian tersebut,” papar Nurhady.
Itu yang pertama. Yang kedua, kata Nurhady, Gibson menunjukkan apa yang disebut sebagai pengetahuan tradisional tidak betul. Yang ada adalah jenis pengetahuan yang ada sebelumnya dan ada setelahnya. Contoh, La Galigo. Rupanya, sangat mirip komposisinya dengan cerita Panji di Kediri. Cerita yang sama menyebar di Austronesia. I La Galigo dalam hal ini adalah jenis saduran. Dari riset pendahulu, muncul abad ke-13, latar belakang cerita Panji di Kediri, berdasarkan penelitian Ian Caldwell, sudah terjadi pertukaran pengetahuan reliji antara Jawa dan Sulawesi Selatan di abad ke-11, seperti yang terjadi di Bantaeng.
“Dari riset itulah diperoleh bukti material dan struktur narasi dari cerita Panji. I La Galigo bukan budaya asli, tapi saduran. Bagaimana struktur pengetahuan disebarkan lalu masih hidup sampai sekarang,” jelas Nurhady.
Dalam paparan Thomas Gibson, kita juga diajak membingkai cara berpikir kita tentang kebangsawanan. Dicontohkan bahwa pelantikan Andi Mappanyukki sebagai raja di tahun 1931—yang sebenarnya tidak pernah lagi dilakukan 150 tahun. Belanda melihat hal ini sebagai peluang untuk membujuk agar Sulawesi Selatan tidak bergabung dalam kekuasaan nasional, dengan menegaskan kembali kekuasaan mereka melalui pengangkatan raja. Pelantikan itu, berdasarkan Gibson, direkonstruksi sekaligus direproduksi secara audio visual. Ini sekaligus membantah anggapan tentang pengetahuan tidak selamanya digunakan untuk kekuasaan, pengetahuan simbolik tidak digunakan demi kekuasaan. Baru setelah ada pihak yang ambisius berkuasa dengan menggunakan kekuatan pengetahuan simbolik masyarakat dengan manipulasinya dengan menumbuhkan sikap regionalitas Sulsesl untuk menghambat laju nasionalitas agar tercapai kekuasaan. Itulah yang disebut sebagai pengetahuan ideologis.
Sementara itu, pembahas Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan sedianya dibahas oleh Imam Mujahidin Fahmi. Tapi tanpa alasan, Imam tidak hadir. Yang menggantikan adalah Zulhajar.
Zulhajar menjelaskan singkat tentang rencana disertasi Imam yang membahas tentang kekuasaan elit di Sulawesi Selatan. Menurut Imam, ada tiga level elit, desa, kabupaten, dan provinsi. Ada empat indikator yang coba dilihat, yakni modal kapital, kuasa dalam arti politik jaringan, wacana, dan hal simbolik.
Dicontohkan, bahwa daerah Kajuara sangat kental kebangsawanan. Banyak elit yang berasal dari daerah ini, semisal Jendral Yusuf; Desa Tabba’e menjadi gembong yang beraksi di Bosowa, terkenal karena tempat perjudian sabung ayam terbesar di Sulsel tahun 1980-an; sementara di Gowa, tepatnya di daerah Manuju ada Karaeng Manuju dan Manjampai, tempat Pak Yasin Limpo pernah menjadi Koramil dan menancapkan kekuasaannya.
Dari semua daerah itu, hanya Tabba’e yang tidak kental kebangsawanannya. Mereka berasal dari keturunan pallapi aro atau pengawal raja yang pernah memberontak pada Raja Soppeng. Nenek moyang mereka sebagai salah satu pemangku adat tidak sepakat dengan perilaku raja yang seenaknya terhadap ata (budak) perempuan.
Untuk Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan Orde Baru, jelas Nurhady, naiknya Soeharto memperkenalkan dua model kekuasaan, yakni militer dan kebangsawanan. Dan keduanya menjadi jalur meraih kekuasaan formal di Sulsel. Sebab di daerah ini, di masa tertentu, para bupati merupakan anggota militer sekaligus bangsawan. Dan mereka yang berasal dari golongan kyai dan panrita menjadi frustasi dan banyak yang memilih keluar meninggalkan daerahnya.
Di malam harinya, acara Satu Dekade dimeriahkan maestro kecapi dari Takalar, Daeng Mile, dan Orkes Toriolo. Gelak tawa memenuhi malam itu.[]
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

1 komentar: on "Ulang Tahun Satu Dekade Ininnawa"

Posting Komentar