Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Senin, 05 April 2010

Budaya, Identitas, dan Agama

Rabu, 11 Februari, Kess Buijs, 65 tahun, sudah sekian jam duduk di sebuah ruangan di jalan Perintis Kemerdekaan, Km 9 no 76 Makassar. Di depannya ada segelas kopi hitam, yang isinya sudah surut sepertiga. Dia bersama istrinya, Trudy.

Rencananya pukul 09.00, dia akan menjadi nara sumber untuk diskusi bukunya “Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit” atau “Power of Blessing from the Wilderness and from Heaven” di tempat itu. Tapi sudah lewat pukul 10.00 acara itu belum juga dimulai. Dia mulai gelisah. Tak lama kemudian seorang perempuan menyuguhinya ubi jalar.

Trudy menggapainya, dengan lembut dia menguliti ubi itu. Pelan-pelan lalu dilahapnya. Buijs dan Trudy adalah warga Belanda. Mereka selalu berjalan berdua. “Trudy tak bisa lama ditinggalkan, dia cukup manja, hehehe,” katanya.

Buijs adalah seorang pendeta agama Kristen juga seorang antropolog. Sejak tahun 1974 hingga 1983 dia menetap di Mamasa (sekarang Sulawesi Barat), dengan disiplin ilmu antropologinya dia berhasil menulis buku tentang orang Toraja yang bermukim di Mamasa. “Saya menulis buku itu dengan pendekatan antropologi, saya tak memakai pendekatan teologi atau keagamaan saya, karena pasti tak akan berguna,” katanya.

Bagaimana Buijs mulai menemukan ide untuk menulis budaya, hingga agama orang Toraja Mamasa yang mempercayai adanya dewa-dewa, padahal bertentangan dengan disiplin agamanya sendiri. Saya mewawancarainya beberapa jam sebelum acara diskusi itu, berikut petikannya:

Kapan Anda tertarik menulis tentang kehidupan orang Toraja di Mamasa?
Setelah beberapa bulan tinggal di Mamasa, saya banyak bercerita dengan orang tua. Cerita mereka sangat bagus tentang budaya, dan tradisi. Saya rasa sayang sekali kalau tidak diingat.

Anda adalah pendeta, apakah itu digunakan untuk pendekatan juga?
Tidak. Meskipun kadang membantu. Saya menulis tentang Kuasa Berkat ini untuk mengingatkan masyarakat Mamasa akan akar budaya mereka. Tapi sekarang perkembangan yang cepat apalagi Mamasa sudah menjadi kabupaten sendiri (sebelumnya Mamasa adalah wilayah kecamatan bagian dari Kabupaten Polmas, tapi pada tahun 2002 resmi berpisah dan menjadi kabupaten sendiri), bupati baru, pembangunan, dan uang mulai masuk.

Bukankah menjadi kabupaten sendiri itu lebih baik, untuk perkembangan daerah?
Pada dasarnya memang baik. Tapi ada banyak yang bergeser, dahulu strata sosial salah satunya ditentukan oleh tanah, sekarang semua harus menggunakan uang. Kepentingan bermain cepat. Ada lembaga pariwista dari pemerintah tapi untuk hemat saya belum mampu memperlihatkan perbaikan dan pelestarian budaya.

Seperti apa sebenarnya agama dan kebudayaan orang Toraja di Mamasa?
Di Mamasa pada dasarnya sama dengan Toraja di Sulsel. Mereka menamakan kepercayaan dulu sebagai agama orang tua atau aluk toyolo. Mereka meyakini ada dua inti, dewa dari langit dan dewa dari bumi. Dewa dari bumi berasal dari hutan dan langit dari arwah. Dua dewa inilah yang bersiergi untuk menghasilkan berkat yang melimpah untuk kehidupan di dunia.

Bagiamana anda melihat agama orang Toraja saat ini?
Semua telah bergeser, itu yang membuat miris. Misalnya dewa bumi yang bermukim di belantara, kini mulai dilupakan, ada beberapa orang tua yang mengingat tapi sekedar diingat. Sebelumnya,untuk memimpin upacara yang berhubungan dengan dewa bumi dipimpin oleh imam perempuan atau toburake. Sekarang, imam perempuan terakhir itu sudah meninggal, orang-orang tua banyak meninggal, dan anak muda sekarang tak ada lagi yang paham. Itu kan sayang sekali.

Apa yang membuat beberapa dewa ini dilupakan?
Agama baru seperti Kristen dan Islam. Agama ini membawa mereka memercayai kepercayaan dari atas dalam pengertian kecil dari langit. Dari hutan dianggap agama dulu dan tidak sesuai dengan agama. Yang mereka anut. Kalaupun ada upacara tentang itu, hanya sebatas mengingat kemuliaan akan filosofi dulu sudah hilang dan terasa. Atau karena hutan sekarang sudah mulai kurang, makanya dewa bumi yang bermukim di belantara berkurang juga.

Kemuliaan dulu, apa maksudnya?
Saling menghargai. Masyarakat dulu sangat menghormati alam. Mungkin lingkungan. Makanya, sikap itu terbawa ke cara mereka bergaul sehari-hari, sekarang semua serba instan dan sifat individualistik yang dominan.

Bukankah agama juga membawa perubahan baik?
Tentu saya percaya itu. Agama membawa perubahan ke khidupan yang lebih baik. Tapi sisi lainnya beberapa akar budaya dan cara pandang masa lalu yang sangat arif dengan beragam filososi harus digadaikan dan menjadi mati. Itu pertentangannya.

Selain pengaruh agama baru, ada faktor lain yang mempengaruhi?
Ya pendidikan. Masalah pendidikan adalah faktor yang menimpa sebagian masyarakat pedalaman. Mereka berpuluh-puluh tahun hanya belajar mealalui alam. Pendidikan formal sangat kurang. Untuk itu, sejak tahun 2007, kami membuat sekolah di pedalaman, hanya TK tapi kami berharap pemerintah melihatnya untuk untuk menjadi dasar jenjang pendidikan berikutnya. Sekarang kami sudah membangun sekitar 100-an TK di beberapa daerah.
Kami yakin, pendidikan yang baik akan membawa perubahan yang baik pula. Dari sini masyarakat akan mampu belajar tentang sejarah mereka.

Bagaimana peran pemerintah saat ini?
Dua pekan lalu, saya ke Mamasa. Belum ada perubahan mendasar. Infrastruktur masih kurang baik. Padahal Toraja adalah sebuah budaya yang besar, masyarakat akan kehilangan identitas jika ini diabaikan.

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Budaya, Identitas, dan Agama"

Posting Komentar