Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Kamis, 25 Februari 2010

Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Simbolik

Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000
Thomas Gibson
Ininnawa, Makassar, Mei 2009

341 Halaman


KEMUNCULAN karya ini mencoba menjawab kehausan kepastian sejarah masyarakat yang ingin mengenal banyak tentang kebudayaan Makassar yang secara simpang siur diceritakan oleh nenek moyang.

Thomas Gibson memulai jelajah budaya ini dengan memilah antara pengetahuan praktis dan pengetahuan simbolik, dengan maksud bahwa Gibson mencoba menjelaskan bagaimana proses perolehan simbol-simbol budaya yang terdiri dari upacara hingga hal gaib.
Jelajah geografis yang terbentang dari Tana Towa di sebelah utara hingga wilayah selatan Bira menjadi basis cerita kekayaan budaya Makassar. Buku ini mungkin dapat mementahkan pernyataan tetang kerumitan dalam penelusuran sejarah budaya masyarakat tertentu yang kompleks seperti komunitas Ara, Gibson mencoba menempuhnya melalui pengkajian mendalam dengan memulai pada komunitas tersebut.
Sajian pemikiran Levi Strauss mengawali sekaligus menjadi aspek penjelas relasi pengetahuan praktis dan pengetahuan simbolik, serta mengapa Gibson memilih pengetahuan simbolik suatu masyarakat untuk memahami perkembangan budaya.
Oleh sebab itu, tulisan ini tidak berdiri sendiri, selain menggunakan jendela teoretik, juga menggunakan pemahaman praktis atau interaksi inderawi sejak kecil dari para informan yang dipilih.
Penyebaran orang Austronesia dengan semangat berladang dan distribusi hasil panen melalui lautan menunjukkan kebenaran relasi pemikiran Levi Strauss yang digunakan tentang pengetahuan praktis dan pengetahuan simbolik. Penyebaran palawija di samudera, menjadi petunjuk bagi sistem pernikahan masyarakat setempat.
Detail cerita dalam buku ini memulai daftar pengetahuan simboliknya dengan mencoba menyingkap tabir proses pertemuan lelaki dan perempuan dalam momen pernikahan sebagai salah satu sistem pengetahuan simbolik yang diteliti oleh Gibson, identifikasi matahari dan bulan pun digunakan oleh masyarakat seperti Makassar-Gowa hingga masyarakat Bugis-Luwu.
Penulis dalam hal ini mencoba membuka mata pembaca tentang kekayaan pandangan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap hubungan laki-laki dan perempuan, hingga aspek perselisihan dan aspek magis penentuan keturunan.
Dengan menggunakan penjelasan aspek metodologis yang diterapkan oleh pengembaraan penulis dalam menelusuri tabir budaya masyarakat Bugis Makassar, buku ini terkesan ingin menunjukkan bagaimana penulis memiliki keterlibatan dan daya interaksi yang baik dengan masyarakat setempat.
Tak elok bila bercerita tentang masyarakat sebelah selatan pulau Sulawesi ini namun kita tak membahas tentang perahunya, penjelas sebagai penguasa maritim, masyarakat sebelah selatan telah mendapat pengakuan dalam kitab kisah I La Galigo, melalui epik sang tokoh utama Sawerigading, muara pembuatan perahu demi perdagangan maritim akhirnya ditemukan di sebelah selatan, pembagian tugas antara orang Ara hingga Orang Bira dalam pembuatan perahu, menyiratkan pola gotong royong yang terbangun sedari dulu oleh masyarakat di sebelah selatan.
Menariknya buku ini tidak melepas hubungan ritual dan proses pembuatan perahu yang memang dilakukan oleh para pria Ara, penyimpanan kayu hingga pengorbanan terakhir persembahan seekor kambing digambarkan sebagai salah satu maha karya simbolik masyarakat Ara.
Membahas tentang I La Galigo, walaupun awalnya Pelras menyatakan bahwa epik I La Galigo bercerita banyak tentang masyarakat bugis, sebagai pengetahuan awal yang dirujuk oleh buku ini namun analisis Christian Pelras akhirnya juga menemukan tentang keberadaan tokoh I La Galigo sebagai kembar berlainan jenis yang harus berpisah, dan akhirnya melalui Sawerigading, kini cerita itu bisa kita temukan di sepanjang pantai Sulawesi. Riwayat hidup yang dikisahkan ini, tak sedikit pun memusingkan para pembaca, bila tetap mengikutkan esensi mitos, sebagai ornamen penting dalam kisah ini.
Ada cerita tentang kejayaan namun ada pula cerita tentang pelanggaran, cerita yang juga mengaitkan kerajaan Luwu’ ini ternyata juga mengisahkan kisah pelanggaran para bangsawan yang dalam buku ini cerita itu berada di wilayah Ujung Lasoa. Pada bagian simbolik ini Gibson memberikan gambaran tentang beberapa ritual dengan maksud menghindari marabahaya bagi masyarakat setempat, selain itu ada juga beberapa ritual yang banyak terjadi di wilayah Ujung Lasoa,
Inilah bagian paling menarik dalam buku ini, buku ini tak mengikutkan tentang pembentukan beberapa daerah yang kini menjadi wilayah kabupaten di Sulawesi Selatan. Diawali dengan berdirinya kerajaan-kerajaan di sekitar Danau Tempe, buku ini mampu menyumbang banyak pengetahuan baru tentang sejarah pembagian wilayah di Sulawesi Selatan kini. Sedangkan untuk kerajaan-kerajaan pesisir Makassar yang lebih terbiasa dengan perdagangan jarak jauh, diulas didalamnya bagaimana pengaruh kerajaan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan tersebut.
Aspek mitos pun tetap tak dilepaskan oleh penulis dalam mengembangkan ceritanya, bahkan itu dijadikan sebgai kekayaan cerita yang tak lazim tentang pembagian wilayah yang biasanya lebih bernuansa politis. Selain itu sisi menarik pada bagian ini adalah cerita tenatang bissu’ yaitu figur androgini, pria yang berpakaian dan hidup sebagai wanita yang banyak tersebar di wilayah Bugis.
Kerajaan Gowa-Tallo juga tak terelakkan dalam bagian buku ini, peralihan dari sebuah kerajaan agraris yang bertumbuh menjadi sebuah kekaisaran maritim, menceritakan bahwa Gibson juga menemukan adanya peralihan kebudayaan simbolik pada masyarakat Sulawesi Selatan, penyatuan antara pertanian dan kegiatan melaut, mencirikan adanya pola penyatuan dua kutub ekstrim.
Masuknya VOC di wilayah ini, menjadi pemicu memunculkan ciri khas suku Makassar yang akhirnya dikenal berani dan mampu mempertontonkan keperkasaannya dalam menghadapi masa kolonial. Kisah perebutan Regalia, menjadi penjelas kemampuan pemimpin dan penghargaan masyarakat setempat terhadap pemimpinnya pula, penghargaan terhadap pemimpin pada masa inilah yang kemudian mencirikan tentang besarnya kharisma kekuasaan raja dalam memimpin rakyatnya.
Muncul pertanyaan, bagaimana dengan garis kepercayaan masyarakat setempat? Tantangan dari pemerintah kolonial tidak menjadi halangan untuk melakukan ritual pemujaan terhadap kepercayaan masyarakat, seperti di Ara dan di Tanaberu. Moral kebangsawanan terbangun dari ritual seperti ini, mengakibatkan gesekan politik pun terbangun dalam upaya mempertahankan posisi penting dalam masyarakat. Gibson menyimpulkan bahwa terdapat pengikisan pengetahuan simbolik masyarakat mengenai ritual kekuasaan ini menjadi perang politik hingga ideologi, penulis menerangkan bahwa ini disebabkan dengan masuknya pendidikan modern, jabatan pemerintahan dan sumber-sumber kesejahteraan baru ke Sulawesi Selatan. Walau demikian, ritual ini tetap mereka jalankan dengan beban yang cukup banyak baik waktu maupun sumber daya sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur mereka.
Kini sudah banyak model kekuasaan politik yang diterima di Makassar, kompleksitas itu terbentuk dari persaingan maupun penggabungan kesadaran politik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Tidak ada lagi tatanan politik tunggal yang seperti yang ditemukan dalam kisah kekuasaan pada buku ini, buku ini mengingatkan kita bahwa dahulu pernah ditemukan model politik dengan ritual sakralnya.
Buku yang digarap dengan segenap perjuangan observasi, wawancara dan telusur pustaka ini, cenderung membahas bagian-bagian di dalamnya secara terputus, namun itu telah diklarifikasi oleh Gibson di bagian awal dan akhir buku ini, bahwa untuk memahami sebuah kesadaran berbuadaya suatu kelompok hingga cara pandangnya terhadap kekuasaan, maka diperlaukan untuk memahami terlebih dahulu tradisi-tradisi simbolik yang diterapkan. Penulis mencoba mengakumulasikan tradisi simbolik di tanah selatan melalui mitos dan ritual yang masih dilangsungkan hingga saat ini, dengan maksud membuka tabir distribusi kekuasaan tradisional masyarakat setempat.

(Taufiq Manji, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP UNHAS)
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Simbolik"

Posting Komentar