Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Kamis, 25 Februari 2010

Agama Tua di Persimpangan Jalan

Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja di Mamasa Sulawesi Barat
Kees Buijs

Ininnawa-KITLV Jakarta, November 2009

vi + 338 halaman


Toraja, siapa yang tidak mengenal kabupaten ini. Kabupaten yang sekarang mengalami pemekaran menjadi dua wilayah, Kabupaten Tana Toraja dengan ibukota Makale dan Toraja Barat beribukota Rantepao. Toraja adalah daerah yang sangat terkenal dengan budayanya yang unik serta panorama yang sangat indah. Implikasinya, daerah ini ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Bahkan pernah ada anekdot yang mengatakan “Tana Toraja lebih dikenal di luar negeri daripada Indonesia sendiri“. Mungkin ini sedikit berlebihan tapi kenyataannya sampai saat ini Tana Toraja merupakan tujuan wisatawan yang sangat digemari.

Mamasa, atau yang dikenal juga dengan sebutan Toraja-Mamasa, mungkin masih asing di telinga para wisatawan lokal dan asing. Salah satu kabupaten termuda yang ada di Sulawesi Selatan ini, tidak kalah menariknya juga dengan Tana Toraja, selain memiliki panorama gunung dan sawah yang menjulang indah, juga memiliki kebudayaan, adat, serta mitologi yang senantiasa melingkupi struktur masyarakat di sana.
Karena daerahnya terisolasi akibat jalan transportasi yang buruk, (lihat hal. 20) sehingga tulisan dan referensi untuk menggambarkan keanekaragaman kultur serta adat di sana sangat sedikit dibanding saudara tuanya, Tana Toraja. Kondisi jalan yang buruk juga berdampak pada masih terpeliharanya tradisi-tradisi dan ritual-ritual lama (lihat hal. 4).
Berangkat dari alasan itulah sehingga penulis merasa tertantang untuk menuliskan aspek tradisi dan ritual-ritual yang kurang mendapat perhatian dari antropolog lainnya (lihat hal. 9). Walau latar belakang penulis yang bukan berasal dari seorang antropolog, melainkan pelayan di suatu gereja Kristen (lihat hal. v) sehingga buku ini memiliki keunggulan, walaupun tidak menjastifikasi bahwa sebagai seorang pelayan, penulis akan memakai kacamata teologisnya membedah isi dari yang tidak tersingkap atas adat-adat tua di Mamasa.
Sebelum mengetahui kuasa dan berkat yang diberikan dari belantara dan langit, buku ini terlebih dahulu menjelaskan detail asal usul orang Toraja-Mamasa, di mana nenek moyang mereka, pongka padang, yang juga merupakan keturunan dewa (tomanurun), melihat ada pergeseran adat yang dibawa tomanurun atas kelompok masyarakat di sana (arruan), lalu mencari daerah baru di sebelah barat Toraja yang tidak didominasi oleh adat tomanurun dan bertemu dengan wanita yang muncul dari air “torijene” dan memiliki 7 anak yang sekarang beranak pinak mendiami seluruh Mamasa.
Tetapi yang menjadi titik fokus dan kekhasan buku ini ialah bagaimana penulis dengan komprehensif mengkaji tradisi tradisi serta ritual ritual yang berlaku serta hubungannya dengan kosmologi yang menjadi kuasa dalam kehidupan; seperti peran mata angin (timur, utara, selatan, barat) sebagai makna simbolik untuk memperkukuh peran dari dewa bumi-langit sebagai otoritas pemberi kuasa dalam kehidupan.
Sebagai contoh, dalam ritual kematian, semuanya diarahkan ke barat. Menarik memang mengetahui bahwa jalan menuju langit dan tempat bersemayamnya leluhur terletak di sebelah barat. Tetapi tidak semua orang bisa untuk mencapai dunia langit, hanya bangsawanlah keturunan dewata-tomanurun yang bisa mencapainya karena ritual-ritual yang menjadi syaratnya dilaksanakan.
Lantas bagaimana nasib orang-orang di luar bangsawan, seperti tana’karurun (orang merdeka) dan tana’ koa koa (budak), setelah dia meninggal? Adakah ritual-ritual alternatif untuk kasta rendah seperti mereka untuk bisa naik ke langit setelah meninggal? Ataukah untuk kelas ini memang tidak ada peluang untuk menikmati alam puya seperti kasta bangsawan rasakan.
Ini yang mungkin lepas dari pengamatan penulis, bagaimana menjelaskan bentuk ritual kematian yang dilakukan oleh kasta bawah ini, sehingga dalam penelitian yang dilakukan kadang hanya berfokus pada kaum bangsawan tana’ bulawan dan menjadikan posisi atau peran kaum bawah menjadi tereduksi. Tidak ada juga kisah di mana kasta bawah yang karna semangat dan kerja kerasnya mampu merubah nasib menjadi lebih baik sehingga secara tidak langsung merubah posisi tawarnya dalam lingkungan masyarakat.
Ada yang menjadi sangat penting juga yang lepas dari pengamatan penulis, di zaman modern seperti ini, pengklasifikasian sudah tidak terlalu nyata, tetapi ini berpengaruh dalam hal-hal tertentu, terutama dalam ritual ritual adat dan interaksi antar-sesama. Seperti penulis katakan, pengklasifikasian masih berlaku pada daerah Tandalangan dan lembah sungai Mamasa. Harusnya penelitian diarahkan kedua daerah yang masih konservatif pada sistem adat, guna melihat fenomena resistensi masyarakat adat melawan arus globalisasi terutama agama-agama atau kepercayaan kepercayaan baru.
Kesuksesan buku ini juga terletak, bagaimana penulis mampu mengklasifikasikan kuasa-kuasa berkat yang dibutuhkan dan tujuan para dewa dalam berkat itu dan pejabat mana yang memimpin ritual tersebut.
Secara jelas penulis membaginya ke dalam empat rangkaian, [1] Pa’bannetauan, yaitu ritual tentang kelahiran dan perkawinan yang ditujukan kepada dewa langit dan bumi dengan wakil pemimpin adat sebagai pemimpin ritual; [2] Pa’toteboyongan, yaitu ritual untuk penanaman padi yang ditujukan kepada dewa padi totiboyong di mana so’bok sebagai pemimpin ritual yang diangkat bisa dari kaum laki laki ataupun perempuan; [3] Pa’tomatean, yaitu ritual kematian yang ditujukan kepada leluhur yang sudah meninggal dan imam tomebalun sebagai pejabat religiusnya; dan [4] Kaparrisan, yaitu pengucapan syukur atas kehidupan di bumi (kekayaan, kesuburan, umur panjang) yang ditujukan kepada dewa bumi dengan pemimpin adat yang biasa disebut toburake.
Namun, sebuah ritual perpisahan mekolong yang tujuannya membalikan perhatian dari keluarga yang berkabung dari kematian kepada kehidupan di bumi dan berkat dari dewa bumi, di mana dipimpin oleh seorang imam perempuan toburake. Kesemuanya dibahas secara detail dan menyeluruh mulai pada tahap pelaksanaan, sesajian atau persembahan yang diperlukan serta apa yang menjadi pantangan pantangan dalam menjalankan ritual ritual tersebut, semuanya dikupas tuntas dalam penjelasan buku ini.

Berkat-berkat yang penting bagi kehidupan di bumi seperti kemakmuran, penyembuhan, dan kesuburan didapat dari dewa bumi yang bermukim di belantara yang tidak dihuni oleh manusia dan dianggap keramat. Dalam ritual ritual yang berkaitan untuk meminta berkat seperti pa’bisiuan di mana yang menjadi imam atau pemimpin ritual adalah toburake yang diambil dari perempuan yang memang punya berkat untuk memimpin ritual dimana pusat ritualnya diadakan di pohon barana. Pohon barana, dalam Indonesia disebut pohon waringin/beringin, dipercaya sebagai tempat menyatunya perempuan dengan dewa-dewa belantara. Ritual pa’bisuan ini adalah suatu nazar yang dibuat hanya oleh perempuan yang tujuannya meminta pertolongan kepada dewa dewa belantara untuk penyembuhan dari sakit keras yang menimpa anaknya, kemiskinan, meminta anak, atau agar anaknya ketika dewasa kelak diberikan kekayaan.
Kalau melihat ritual yang hanya dibolehkan dilakukan di hutan belantara, ini kontras dengan hutan yang saat ini sudah semakin sempit akibat penebangan hutan dan perluasan tempat pemukiman. Tidak adanya suatu fleksibilitas lokasi ritual menjadikan saat ini ritual-ritual lama sudah tereduksi dangan sendirinya. Jadi, sosok dewa dewa bumi yang hidup di hutan belantara secara tidak langsung hilang dan berkat berkat manusia juga hilang. Di sini penulis sedikit lalai melihat hutan itu dalam banyak fungsi untuk kehidupan manusia.
Dalam mengkaji adat atau ritual ritual yang dilakukan di Mamasa banyak sekali terdapat kesamaan dengan budaya Toraja, seperti ritual kematian tertinggi di mana di Toraja dikenal dengan nama dirappa’i sedangkan di Mamasa dikenal diallun; Alam orang yang sudah mati di Toraja dikenal dengan nama puya sedangkan di Mamasa dikenal pallondong; Ungkapan syukur atas bumi di Toraja disebut bua’kasalle sedangkan di Mamasa disebut pa’bisiuan dan banyak lagi.
Ini menandakan bahwa adat, kepercayaan lama serta ritual ataupun asal-usul antara Toraja dan Mamasa sangat dekat dan berhubungan. Tetapi patut diingat pemberian nama Toraja di depan kata Mamasa bisa jadi sesuatu yang keliru. Mengapa demikian? Karena banyak orang Mamasa sendirinya tidak mau disebut sebagai ‘orang Toraja’ tetapi ‘orang Mamasa’. Walaupun rumpun serta persamaan banyak didapatkan antar kedua daerah tersebut.
Khusus dalam proses transformasi kepercayaan lama ke kepercayaan baru, di mana masuknya agama Kristen merubah banyak kepercayaan kepada dewa. Lebih diarahkannya kepercayaan kepada langit sebagai otoritas pemberi berkat menjadikan berkat berkat di bumi melalui dewa dewa bumi dengan sendirinya hilang. Banyak perubahan perubahan ritual yang dahulunya harus dilakukan di dalam hutan belantara diganti dengan ibadah-ibadah dan persekutuan dalam jemaat gereja. Imam imam dalam melakukan ritual seperti toburake dalam ritual pa’bisiuan, mekolong, dan kaparrisan diganti oleh pendeta-pendeta jemaat geraja. Proses transformasi dari kepercayaan lama ke kepercayaan baru ini menjadikan aluk tuyolo sebagai suatu kepercayaan yang identitasnya mulai dilupakan. Walaupun saat ini ritual-ritual tersebut dalam kesempatannya masih tetap dijalankan seperti dalam acara acara kebudayaan atau pertemuan penting tetapi sifat dan konteksnya yang berbeda.
Patut juga bagi penulis melihat fenomena besar yang terjadi saat ini di mana adat dan ritual ritual seperti pembangunan-pembangunan rumah adat serta ukirannya ataupun pada ritual kematian tidak menjadi hak eksklusif bagi orang-orang tertentu saja bangsawan tetapi bisa dilakukan oleh orang-orang yang status sosialnya diubah oleh kekayaan, jabatan, pendidikan atau kuasa yang diperolehnya dalam masyarakat.
Perubahan-perubahan radikal yang terjadi pada pertengahan abad lalu mengakibatkan banyak ritual lama yang tidak lagi dilakukan, meski beberapa ritual tidak lenyap secara total. Haruskah kepercayaan lama di Mamasa harus tetap dilestarikan, sementara kepercayaan baru menolak dengan keras ritual yang ada pada kepercayaan lama atau kepercayaan lama dimodifikasi sesuai dengan tuntutan kepercayaan baru?
Terlepas dari kekurangan dan kelebihan, buku ini adalah suatu ciptaan yang luar biasa, di mana kajian dan penelitian yang dilakukan oleh penulis sangat detail dan komprehensif mengupas semua proses dari ritual-ritual kepercayaan lama yang ada di Mamasa, mulai dari Mitologi tentang asal-usul orang Mamasa, persiapan yang dilakukan untuk memulai ritual, sesajian atau korban yang diberikan pada saat ritual, imam yang memimpin ritual serta fungsinya, pantangan yang tidak boleh dilakukan pada saat proses ritual atau sesudah ritual dan makna simbol yang menyertainya.
Buku ini wajib dibaca oleh seluruh orang Mamasa ataupun keturunannya, kalangan mahasiswa dan akademisi yang menekuni dan bersimpati pada kajian antropologis, terkhusus budaya Mamasa. Buku ini merupakan satu-satunya buku yang, saya ketahui, sampai saat ini mengkaji secara mendalam tentang kepercayaan-kepercayaan lama dari orang Mamasa.

(Gedion Lebang, Mahasiswa Ilmu Politik Unhas)
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Agama Tua di Persimpangan Jalan"

Posting Komentar