Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Kamis, 14 Januari 2010

Kuasa dan Usaha di Majalah Gatra

Sembilan pakar mengulas berbagai aspek sosial-budaya sejumlah etnis di Sulawesi-Selatan. Walau berupa makalah, isinya cukup memadai sebagai upaya pengenalan.
Ada citra yang melekat pada orang Bugis dan Makassar. Mereka dikenal sebagai pelaut yang tangguh, perantau yang gigih, dan pemeluk agama Islam yang taat. Selain ini juga penganut demokrasi yang patuh pada kekuasaan yang dibentuk berdasarkan bentuk sosial.
Citra seperti itu muncul tentu saja berdasarkan kajian-kajian yang telah dilakukan, dimulai sejak zaman penjajahan. Keunikan etnis Bugis dan Makassar tak habis-habisnya digali. Dalam buku ini dua etnis itu disoroti dalam struktur budaya, struktur kekuasaan, dan peranan mereka dalam dunia usaha.
Ada sembilan pakar yang menyumbangkan pemikirannya tentang potret sosial-budaya, politik, dan ekonomi kedua suku itu. Salah satunya Christian Pelras, yamg selama puluh tahun meneliti suku bugis.Karyanya dalam buku ini boleh dibilang sebagai ringkasan dari bukunya yang berjudul Manusia Bugis, terbitan 2006. Cuma,dalam tulisannya ini,Pelras lebih memfokuskan bahasannya pada masalah hubungan sosial-politik dan ekonomi masyarakat Bugis.
Ia menggali hubungan dan ikatan patron-klien yang mewarnai kehidupan masyarakat Bugis.Dia melihat keunikan-keunikan dalam menjalin hubungan ini.Salah satunya adalah sifat sukarela yang mendasari ikatan hubungan “tuan” dan “pengikutnya” dalam masyarakat yang dikenal berkarakter keras tapi peramah ini.
Dalam hal politik,ikatan yang bersifat sukarela ini sangat memungkinkan rakyat meninggalkan rajanya bila sang raja dinilai berlaku sewenang-wenang.Sebab,dala
m ikatan tuan-pengikut dalam masyarakat Bugis berlaku semacam kontrak sosial yang mengatur timbal balik hak dan kewajiban masing-masing.Raja sebagai penguasa wajib melindungi dan menyejahterakan rakyatnya,rakyat pun wajib mengabdi kepada raja.
Pelras melihat pola ikatan patron-klien ini masih hidup dalam bentuknya yang berbeda,sungguhpun sudah terjadi transisi radikal pada masyarakat Bugis sekarang.Pakar lainnya,Koos Noorduyn,memusatkan perhatiannya pada masyarakat Wajo.Kelompok ini boleh dibilang mewarisi darah dagang lewat profesi mereka sebagai saudagar yang berdiam di Makassar.
Menurut Noorduyn,orang-orang Wajo bermukim di Makassar jauh sebelum perang melawan Belanda,pada pertengahan abad ke-17.Mereka pengikut setia raja-raja Makassar.Tapi,berbeda dari paparan Pelras,Noorduyn lebih memfokuskan pembahasannya pada struktur kekuasaan masyarakat Wajo di Masa lalu dan model-model kegiatan perekonomian yang mereka jalankan.
Noorduyn mencatat,dibandingkan dengan dengan orang Bugis,pelapisan sosial dalam masyarakat Wajo tidak kental betul.Kebangsawanan bukan menjadi tolok ukur baku bagi pengangkatan seorang pemimpin,karena prinsip dasar yang mereka anut adalah consensus.Ini boleh dibilang sebagai prinsip yang mengarah pada konsep bersifat demokratis pada masyarakat Wajo.
Penulis-penulis lainnya ada yang lebih memfokuskan pada studi kultural orang Gowa di Sulawesi Selatan.Martin Rossler,misalnya,menyoroti
hubungan simbol kepemimpinan,benda pusaka,dan fungsi ritual dalam kaitannya dengan model kepemimpinan masyarakat,terutama di dataran tinggi Gowa.Dia membedah peranan kalompoang yang bermakna “ kebesaran” dalam perubahan aspek kepemimpinan masyarakat Gowa.
Yang tak kalah menarik ,ada juga pakar yang khusus mengkaji kiprah orang-orang Bugis dan Makassar di perantauan.R.Z. Leirissa, misalnya, membandingkan peran mereka di dua kawasan, yakni Ambon dan Ternate. Ia menemukan kemiripan, bahwa peran orang Bugis dan Makassar sangat besar dalam perdagangan dengan pihak luar. Ia juga menemukan adanya pertalian mereka dengan struktur kekuasaan tanah perantauan. Beragam topik yang tersaji dalam buku ini sangat menarik, terutama untuk mengenal lebih jauh etnis-etnis yang di Sulawesi Selatan. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan untuk kajian yang lebih komprehensif. Terutama, untuk melengkapi kajian tentang etnis lain di Sulawesi Selatan, seperti Mandar, Toraja, dan Kajang.

Erwin Y Salim
(sumber: Gatra No. 34/2-8 Juli 2009)

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

1 komentar: on "Kuasa dan Usaha di Majalah Gatra"

Dasman Djamaluddin mengatakan...

PERANG DUNIA III DI MAJALAH GATRA

MENJELANG berbuka hari ini ada berita menarik dari Majalah GATRA No.42, 26 Agustus - 1 September 2010 halaman 94-95 bahwa diramalkan Perang Dunia III akan dimulai pada November 2010 ini yang didahului perang lokal antarnegara tetangga yang kemudian merembet melibatkan banyak negara. Senjata nuklir dan kimia ikut ambil bagian dan menyebabkan kehancuran di hampir semua kehidupan di belahan bumi utara.

Majalah GATRA mengutip ramalan Vangelia Pandeva Dimitrova, peramal tuna netra asal Bulgaria. Vanga, demikian namanya disebut, pernah meramalkan runtuhnya menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat oleh "serangan" burung baja. Juga pernah meramalkan gerakan Prestroika di Uni Soviet yang menjadikan "wajah" Rusia berbeda, hingga tenggelamnya kapal selam nuklir kebanggaan Rusia, Kursk, pada tahun 2000.

Ramalan sudah tentu bisa dipercaya atau tidak. Tetapi dengan meningkatnya perlombaan persenjataan yang diramalkan Cina akan tampil sebagai negara super power baru sungguh mencemaskan. Kita masih ingat adanya Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Sekarang nampaknya Perang Dingin atau perang sungguhan akan melibatkan Cina dan Amerika Serikat. Dalam mengantisipasi hal ini, Amerika Serikat akan memanfaatkan nuklir Vietnam menghadapi Cina.

Jika kita berbicara mengenai fakta yang ada, bukan ramalan, maka belanja pertahanan militer Cina tahun 2010 naik menjadi 70,2 miliar dollar AS. Hal ini dikarenakan pada kuartal II tahun ini, ekonomi Cina tumbuh 10,3 persen. Ada adagium yang mengatakan: "Ekonomi maju, militer meningkat."

Akhir Juli lalu Cina menggelar latihan perang di perairan Laut Cina Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara. Dalam latihan tersebut, kapal perang dan kapal selam Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Cina melakukan latihan menggunakan peluru tajam dan rudal dengan sejumlah sasaran permukaan. Kapal perang juga menggelar latihan anti-serangan udara.

Yang mengejutkan, sengketa awal Perang Dunia III bisa dipicu klaim lima negara (Cina, Vietnam, Taiwan, Malaysia, dan Filipina) atas wilayah utara Kalimantan. Wow...bukankah Kalimantan itu, menyambung menjadi satu dengan Indonesia? (http://dasmandj.blogspot.comn)

Posting Komentar