Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Senin, 18 Januari 2010

Imaji Modernitas Andrea Hirata

Jika anda adalah penggemar trilogy karya Andrea Hirata, maka tak ada salahnya menjadikan buku Laskar Pemimpi sebagai pelengkap.
Adalah Nurhady Sirimorok, penulis buku Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya, dan Modernisasi Indonesia. Lewat buku ini, ia bersikap “menghakimi” novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor. Nurhady merangkai kalimat-kalimat penghakimannya dalam bahasa dan nuansa tutur yang menggebu-gebu dan ekspresif.
Dalam kajian kritik sastra, Nurhady berpedoman pada orientasi ekspresif yang menilai karya sastra “sebagai ekspresi, luapan, ucapan hasil dari imajinasi pengarang, pikiran-pikiran, dan perasaannya” (Rachmad Djoko Pradopo, 1995).
Melalui buku ini, anda digiring untuk lebih mempertanyakan ada apa gerangan sehingga trilogy Andrea Hirata menjadi sangat laris? Seberapa kritis pembaca trilogy tersebut? Serta pertanyaan lainnya.

Mula-mula Nurhady menyusuri persepsi pembaca itu dari Internet: komentar-komentar di mailing list, blog, dan ruang-ruang laman yang lain (Bab 1 Komentar Pembaca sebagai Narasi). Usai mengetahui persepsi pembaca, Nurhady memaparkan karakteristik pembaca novel Andrea. Pada Bab 2, yang berjudul Membayangkan Sejarah Pembaca Andrea. Ini adalah teknik supaya kita terbawa dalam konteks ruang-waktu masa Orde Baru, ketika bibit-bibit modernitas subur disemai di Indonesia.
Selanjutnya, di Bab 3 (Laskar Pelangi: Resep Menjadi Modern), Nurhady menguraikan kritiknya terhadap novel Laskar Pelangi. Dengan panjang lebar, ditunjukkannya bagian-bagian novel yang dinilainya aneh. Misalnya, bagaimana mungkin tokoh Lintang yang berusia sangat muda, baru sekolah dasar, begitu mahir dalam banyak bidang.
Tak cukup menyelami Laskar Pelangi, Nurhady lantas melakukan studi komparasi di Bab 4. Buku yang didedah adalah cerita anak karya Mansur Samin, Kuto Anak Desa Terasing, yang terbit pada 1994, masa ketika Orde Baru menghegemoni modernisasi di Indonesia. Baik di Kuto Anak Desa Terasing maupun Laskar Pelangi, Nurhady mendapati satu kemiripan gelagat: sama-sama menyebarkan modernitas di ranah pendidikan pada kelompok ”masyarakat terasing”.
Nah, di sinilah klimaksnya. Pada Bab Andrea Hirata Mundur Dua Abad, Nurhady seperti menyempurnakan kritiknya atas modernitas ala Andrea Hirata dengan pisau teori Orientalisme Edward Said. Sementara itu, di bab terakhir, Nurhady mengajak kita terlibat secara batin dalam proses kreatif buku ini.
Singkat kata, buku ini adalah ungkapan vonis. Karena itu, ia sama kadarnya dengan kebanyakan orang yang “memvonis” Laskar Pelangi itu inspiratif. Di titik inilah, kepengarangan Andrea Hirata dilepas-bebaskan dari karyanya. Bukankah penjatuhan vonis atas setiap karya selalu jadi domain otoritatif pembaca? Begitupun, bila penghakiman Nurhady juga dipandang sebagai ketakberimbangan, baiknya kita tak usah gerah dan bermerah muka.

Sudah semestinya kita tak lagi membaca novel karena latah dan termakan konstruksi media, tapi hasrat ingin membuktikan penilaian atas sebuah karya.

(disari dari: M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S, Imaji Modernitas Andrea Hirata, Koran Tempo edisi 28 Desember 2008)

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

2 komentar: on "Imaji Modernitas Andrea Hirata"

kamar bawah mengatakan...

Pengen bukunya berapa ya harganya...

Anonim mengatakan...

hubungi langsung email: distribusiininnawa@gmail.com [distribusi]

Posting Komentar