Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com

Senin, 18 Januari 2010

Gibson Kuak-Ulang Antropologi Pengetahuan

Setiap kali melihat karya penulis asing tentang Indonesia, saya selalu sakit hati. Saya iri. Kenapa karya sehebat itu tidak dihasilkan oleh para penulis bangsa ini. Apakah kita sama tidak menyadari bahwa kekayaan bangsa kita sendiri telah dinarasikan oleh bangsa lain? Begitu pula pikiran yang menghinggapi saya setelah membaca buku Kekuasaan Raja, Syekh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik & Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 (Ininnawa, 2009).
Sebuah istilah kembali diperkenalkan Gibson dalam karyanya ini, yakni antropologi pengetahuan. Tidak serupa yang terjadi dalam sosiologi. Dalam ilmu ini, sosiologi pengetahuan mencakup pengetahuan yang seakan tak lepas dari konteks sosial.

Para sosiolog seperti Karl Mannheim banyak menjelaskan tentang proses-proses sosial yang kemudian memberi warna pada corak berpikir individual. Namun, cara berpikir itu seolah menempatkan individu sebagai taklukan dari masyarakat. Individu ibarat tabula rasa yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Ibarat kanvas yang digambari sesuka hati oleh masyarakat. Seolah individu senantiasa berpikir seragam, serta bertindak karena dipandu oleh nilai-nilai yang sifatnya sosial. Lantas, bagaimana menjelaskan tentang pengetahuan yang menyimpang dari kecenderungan umum?

Entah kenapa, istilah antropologi pengetahuan bukanlah istilah yang baku dan populer sebagaimana istilah antropologi kesehatan, antropologi ekologi, atau antropologi biologi. Akan tetapi, istilah ini mulai mencuat ketika munculnya pemahaman bahwa proses-proses berpikir manusia dalam interaksinya dengan semesta.
Dari bacaan yang tidak terlalu banyak, saya pertama menemukan banyak uraian tentang proses berpikir ini dari buku karya Celia Loew yang judulnya Wild Profusion: Biodiversity Concervation in an Indonesian Archipelago. Meski Celia tidak secara spesifik menyebut antropologi pengetahuan, namun ia menguraikan secara holistik bagaimana proses-proses berpikir penduduk suku Bajo dan dibandingkan dengan cara berpikir manusia –yang menyebut dirinya modern. Dengan mengutip uraian Imannuel Kant tentang tahap-tahap perkembangan rasio mulai dari empiris hingga rasio kritis, selanjutnya Celia mengurai bagaimana proses berpikir semacam itu juga muncul dalam masyarakat Bajo.

Barangkali Imannuel Kant adalah pemikir yang harus diurai pandangannya demi menyibak antropologi pengetahuan. Pemikiran Kant yang dikategorikan sebagai pintu utama mazhab kritis dalam ilmu sosial bisa menjadi pijakan epistemologis untuk memperkuat bangunan pemikiran tentang antropologi pengetahuan. Tatkala Kant membahas kritik atas fundasi pengetahuan modern, maka sesungguhnya kritik itu bisa ditempatkan sebagai pijar awal dari posisi antropologi pengetahuan.
Seperti halnya Kant, Celia Loew juga menolak konsep rasionalitas yang hanya mengacu pada proses metode ilmiah sebagaimana termaktub dalam paradigma positivistik. Ia menawarkan suatu rasionalitas bentuk lain yang lebih arif dalam memandang bagaimana konsep berpikir orang-orang Bajo di Togean. Meski tak menyebut kata antropologi pengetahuan, namun saya kira uraian Celia hendak menjelaskan bagaimana proses-proses berpikir manusia yang ada pada satu komunitas kecil.

Masih Asing bagi Antropolog Indonesia
Tak banyak antropolog di Indonesia yang berani merambah ke ranah antropologi pengetahuan. Banyak yang hanya berputar-putar dengan realitas lapangan, tanpa melihat secara kritis bahwa realitas itu adalah konstruksi pengetahuan yang sifatnya menyejarah dan merupakan proses yang amat panjang sejak keberadaan manusia di satu tempat.
Menurut Gibson, pengetahuan tidak sekadar satu ruang dalam pikiran sebagai data yang dperoleh dari panca indera maupun rasio. Pengetahuan bisa saja melekat di dalam jaringan relasi sosial, praktik-praktik berwujud, perkakas, bahan-bahan baku, dan pengetahuan implisit tentang dunia alamiah. Ia hendak mengatakan bahwa pengetahuan bisa melekat dalam beragam kendaraan simbolik (mengingatkan kata Geertz tentang “symbol is vehicle of meaning”), dan hanya sebahagian yang terbahasakan.

“Saya percaya bahwa terdapat sebuah hierarki jenis pengetahuan, dari pengetahuan praktis sehari-hari yang implisit hingga pengetahuan ideologis eksplisit yang dipakai oleh agen-agen secara sadar untuk mencapai tujuan-tujuan individual. Di antara dua ekstrem ini, ada lapisan pengetahuan yang cukup luas yang saya namai pengetahuan simbolik,” katanya.

Tiga lapis pengetahuan yaitu pengetahuan praktis, pengetahuan ideologis, dan pengetahuan simbolik adalah gagasan besar Gibson ketika menjelaskan bagaimana warga Makassar berupaya mempertahankan ritual sejak masa silam, dan bagaimana pengetahuan itu bernegosiasi dengan kehadiran VOC yang hendak mempertahankan ritual. Seiring dengan nasionalisme Indonesia, VOC mempertahankan ritual itu sebagai strategi untuk tetap merebut dukungan dari kelompok tradisional atas VOC.

Yusran Darmawan (http://timurangin.blogspot.com)

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Gibson Kuak-Ulang Antropologi Pengetahuan"

Posting Komentar