Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com
Latest Posts

Selasa, 11 Oktober 2016

Pasar Terong Makassar: Dunia dalam Kota

Judul:       Pasar Terong Makassar: Dunia dalam Kota
Penulis:   Agung Prabowo, dkk
Editor:      Anwar Jimpe Rachman
Penerbit: Ininnawa bekerjasama AcSITanahindieSADAR, dan MakassarNolKm.Com
Tebal:      xx + 240 hl


Nama pasar ini akrab bagi telinga pendengar Radio Republik Indonesia mulai akhir dekade 1960-an. Selama 44 tahun, setiap hari dan selalu pukul 05.00 Wita, penyiar Syahril Sidik menyebut namanya sebagai salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok Indonesia. Setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, Pasar Medan Kota di Sumatra Utara, nama pasar di Kota Makassar ini disebut. Kenalkan, namanya Pasar Terong.

Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Sepuluh ribuan pedagang dan pekerja di dalam pasar di Jalan Terong itu bekerja dari pukul 03.00 hingga 18.00 Wita setiap hari, menyalurkan komoditas-komoditas tadi menuju 18 provinsi dan negara seperti China dan Timor Leste, serta tentu juga berkaitan dengan menu yang tersaji di meja makan kita.

Buku ini buku pertama yang merekam denyut manusia-manusia yang menghidupkan pasar terpenting di Sulawesi Selatan, jantung penyebaran bahan pangan untuk Indonesia Timur.[]
read more...

Minggu, 09 Oktober 2016

Pakkurru Sumange': Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan

Pakkurru Sumange': Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan
Penulis: R. Anderson Sutton
Penerjemah: Anwar Jimpe Rachman
Penyunting: Nurhady Sirimorok
Penerbit: Ininnawa, September 2013
Tebal: xx + 338 hal

Pakkurru Sumange': Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan melacak sejarah seni pertunjukan Sulawesi Selatan mulai 1940-an hingga tahun-tahun menjelang pergantian milenium, sekaligus menceritakan pada kita bagaimana tradisi musik dan tari itu berkembang dari praktik-praktik ritual masa lampau sampai menjadi acuan dalam seni avant garde.

Sang penulis, Anderson Sutton, pun menuntun kita menuju sebuah kaleidoskop sejumlah acara pertunjukan di Sulawesi Selatan, menelusuri kedalaman bunyi-bunyian, struktur-struktur, dan kekuatan simbolik dari sinrilik (lagu dan syair epos berbahasa Makassar), lagu-lagu liris yang diiringi kacaping, dan permainan gendang, sekaligus melacak perkembangan musik pop kawasan ini.

“Tak ada yang sebanding dengan buku ini, bukan hanya karena subyeknya, namun juga cara penulis mendekatinya… Setiap ahli Indonesia harus punya buku ini—dan bukan hanya bagi mereka yang tertarik pada budaya musik atau pertunjukan. Buku ini memuat beberapa soal penting mengenai ketegangan-ketegangan yang mendasari Indonesia kontemporer,” begitu kata Benjamin Brinner, Guru Besar Etnomusikologi, University of California, Barkeley

“Sebuah buku yang luar biasa…. penulisnya menebar cakupan yang luas demi memberi pembaca pemahaman kuat mengenai berderet genre musik, konteks pertunjukan dan para seniman. Pemahaman Sutton mengenai sistem kesenian dan pendidikan di Indonesia tak ada bandingannya dalam kajian Indonesia,” hasil pembacaan Andrew Weintraub, profesor musik, University of Pittsburgh, penulis Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia

“Salah satu buku perintis di bidangnya. Ia menelusuri tradisi di luar arus utama musik Indonesia (Jawa/Bali) …. Sutton jelas tengah merintis bidang kajian baru,” ujar Sean Williams, profesor musik, Evergreen State College, penulis buku “The Sound of the Ancestral Ship: Highland Music of West Java”.
read more...

Sabtu, 08 Oktober 2016

Sosiologi Desa: Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas

Sosiologi Desa: Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas
(Darmawan Salman)
viii + 188; Oktober 2012; ISBN: 9786021963647

Potret desa indah, harmoni dan bersahaja kini hanya tinggal kenangan dan impian dari para pelancong serta tertulis apik dalam sajak. Desa dalam kondisi kekinian berada dalam pusaran proses perubahan.

Desa merekam proses perubahan dalam berbagai fase dan tingkatan. Ada desa mengalami perubahan secara involusi, evolusi, revolusi dan gerakan sosial  lebih ekstrim.

Rezim senantiasa berganti, juga menjadikan desa sebagai salah satu fokus arah kebijakan dengan sebuah harapan, rakyat yang tinggal di wilayah pedalaman dan pedesaan tetap memberi dukungan dan partisipasi kepada pemerintah pusat.

Buku ini memilih fokus pada antologi desa sebagai dinamika. Dinamika dilihat pada periode berlangsungnya berbagai revolusi senyap di Indonesia.

(Sumber: http://yahyaunsa.blogspot.co.id/2013/02/potret-desa-dalam-pusaran-perubahan.html)
read more...

Selasa, 05 Agustus 2014

Pengumuman

Pembaca yang terhormat, 
Untuk memudahkan pemesanan buku terbitan Ininnawa, Anda bisa mengirim pesan SMS ke 0856.5668.1100 atau beremail ke: distribusiininnawa@gmail.comTerima kasih.

Salam,

Ininnawa
read more...

Kamis, 24 Mei 2012

Identitas dalam Kekuasaan, Memindai Bugis dan Makassar dalam Berpolitik


Identitas dalam Kekuasaan 
Hibriditas Kuasa, Uang, dan Makna 
dalam Pembentukan Elite Bugis & Makassar
(Imam Muhajidin Fahmid)
Ininnawa-ISPEI
Juni 2012
343 hl + vi 
Rp 82.000

Bugis dan Makassar sebagai sama-sama percaya bahwa asal-usul elite politik mereka bermula dari mitos Tomanurung (pemimpin yang turun dari langit). Keduanya menginginkan pola hubungan antara penguasa dan masyarakat bersifat kontraktual. Ini berarti bahwa kendati secara simbolik masyarakat memberi otoritas yang besar kepada si pemimpin, namun di waktu yang bersamaan, pemimpin harus taat dengan kesepakatan yang diberikan sang pemberi simbol, yakni Tomanurung.

Kontrak politik ini mulai berlangsung pada abad ke-13 di jazirah selatan Pulau Sulawesi, yang tentu menyadarkan kita bahwa ini merupakan sebuah pencapaian yang mendahului teori Thomas Hobbes, yang hidup pada abad XVI-XVII dan Montesquieu seabad setelahnya, tentang kontrak sosial.

Tapi di luar dari pandangan itu, pola perilaku mereka dalam berpolitik sangat berbeda. Bagaimana dua suku ini menyikapi siri (harga diri) dan pacce (rasa senasib) dalam dunia politik? Seperti apa cara menggunakannya dalam konteks masa kini?

Karya Imam Muhajidin Fahmid ini membedah sejarah pergerakan di Sulawesi Selatan, termasuk tarik-menarik antara Sulawesi Selatan dan Jawa dalam pusaran kekuasaan nasional. Imam menarik garis itu yang, rupanya, berhubungan awal terbentuknya elite-elite politik dengan membandingkan dua daerah yang merepresentasikan Bugis dan Makassar, Bone dan Gowa. Dan tentu juga menarasikan bagaimana tiga unsur—kuasa, uang, dan makna—diberdayagunakan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dan politik.

Contoh yang menarik dan perlu kita simak bersama adalah studi kasus klan Page di Desa Tabba'e, di Bone yang berhasil mendobrak sistem kebangsawanan yang awam berlaku di kawasan ini, tatkala memasuki dunia politik.

Selamat membaca. Selamat memasuki dan memindai dunia politik Sulawesi Selatan!
read more...

Senin, 26 Maret 2012

Energi Alternatif, Buletin Payo-Payo edisi 2

Buletin Payo-Payo edisi II "Energi Alternatif" dapat Anda baca dan unduh di sini! Selamat membaca...
read more...

Kamis, 08 Maret 2012

Rambu Solo’, Jantung Kehidupan Toraja

Akhir Desember lalu, di Kelurahan Sereale, Kecamatan Tikala, Toraja Utara, seorang perantau yang sukses menggelar rambu solo’ dengan menyembelih ratusan ekor kerbau dan babi, dengan alasan agar masyarakat ‘kebagian daging’.

Dari peristiwa tersebut, ternyata status ekonomi bisa membuat seseorang menjadi terpandang meski menurut kepala adat tidak mampu menaikkan status sosial di masyarakat. Dalam tujuh tahun terakhir, rambu solo' kerap dijadikan ajang gengsi keluarga. Bahkan, beberapa rambu solo' diakomodasi oleh kepentingan kelompok tertentu, kekhidmatan pengantaran jenazah ke Puya pun perlahan memudar.

Dalam literatur-literatur tentang Toraja disebutkan bahwa pesta ini merupakan pesta mempersembahkan kurban bagi arwah leluhur. Dalam keyakinan aluk todolo, kepercayaan leluhur masyarakat Toraja, seseorang yang baru saja meninggal belum dianggap ‘benar-benar meninggal’ melainkan hanya sakit atau to makula’ (to = orang, makula’ = sakit). Sehingga, sang mendiang tetap disajikan makanan dan minumannya sebagaimana ketika masih hidup. Kematian semata perubahan dari hidup menjadi roh alam gaib. Selain makanan dan pakaian, pihak keluarga membekali sang arwah dengan segala perlengkapan upacara, hewan kurban, sampai harta benda.

Bagaimana dunia antropologi memandang fenomena ini? Berikut wawancara saya dengan antropolog Universitas Hasanuddin Makassar, Yahya MA, di kediamannya, Minggu, 5 Februari lalu.

Dalam perspektif antropologi, bagaimana mula terbentuk sistem kepercayaan Toraja yang ada sekarang?
Sistem kepercayaan masyarakat Toraja, seperti suku lain di Sulawesi Selatan, punya kepercayaan nenek moyang sendiri sebelum datangnya agama langit (Islam dan Kristen). Mereka melakukan pesta besar dalam siklus hidup, terutama kematian. Dalam kepercayaan ini diyakini bahwa roh-roh leluhur yang mengatur kehidupan. Keberuntungan dan kemalangan semua berasal dari restu roh-roh ini.
Islam lalu menyentuh dataran yang didiami oleh suku Bugis dan Makassar. Agama ini tidak melarang pesta. Tapi Islam menganjurkan untuk mengalihkan pesta dilakukan tidak pada kematian, tapi diubah menjadi pesta yang diperuntukkan pada tahapan mengawali hidup, yakni perkawinan.
Sementara Toraja, yang ada di pegunungan sebelah utara dan tidak tersentuh siar Islam, mempertahankan rambu soloperayaan dalam praktik kepercayaan aluk todolo yang menganggap puya, alam gaib/surga, itu punya tingkatan. Bila mengadakan pesta maka leluhur yang dipestakan dapat mencapai puya lapis tertinggi, dengan syarat menggelar pesta besar-besaran—yang tentu meniscayakan biaya yang besar pula.
Wajar bila yang kita saksikan sekarang, suku-suku ini menggunakan segala sumber daya mereka di kedua pesta ini.

Berdasar catatan kami, etnis Toraja termasuk salah satu suku perantau terbesar di Nusantara, bisa dijelaskan apa yang melatarbelakangi kecenderungan ini?
Toraja, Bugis, dan Makassar berimigrasi karena faktor-faktor seperti perkawinan yang mengharuskan pindah ke daerah lain, atau bisa juga karena keadaan sosial. Orang-orang yang berpindah ke tempat lain, sebagaimana sering terjadi di Sulawesi Selatan, mengalami trauma-trauma sosial, semisal terdapat anggapan yang sering kita dengar “belum jadi orang” yang lebih sering berkonotasi kekayaan material seseorang atau satu keluarga. Karena itulah mereka harus pindah sebab ingin membuktikan bahwa mereka bisa sukses, mengumpulkan harta, dengan bekerja keras.
Orang-orang inilah yang kemudian setelah meraih sukses kembali ke kampung mengadakan pesta. Mereka mengeluarkan biaya begitu besar untuk menegosiasikan ulang letak posisi sosial mereka. Di dalamnya kelak mereka memproklamirkan diri bagaimana dia sekarang kepada sanak keluarga atau orang sekitarnya. Karenanya, rambu solo bisa kita sebut sebagai ‘jantung’ masyarakat Toraja, seperti Susan Bolyard Millar yang menyebut perkawinan merupakan jantung kehidupan masyarakat Bugis.
Mungkin orang luar menganggap bahwa praktik ini praktik yang sangat konsumtif. Tapi sebenarnya, efek baik yang dibawa adalah kehidupan ekonomi masyarakat Toraja dipompa oleh praktik ini. Orang-orang yang hendak berpesta lalu membeli tedong bonga (kerbau belang, jenis yang dihargai ratusan juta), babi, bambu, dan sumber daya yang dimiliki orang Toraja sendiri.

Perilaku ini ‘istimewa’ atau gejala seperti ini terjadi juga di masyarakat lain?
Persis! Masyarakat Kwakiutle, Mexico, ada konsep yang bernama ‘potlach’ yang berarti gemar pamer kekayaan. Oleh Ruth Benedict disebut masyarakat yang bertipe megalomania paranoid. Mereka masyarakat yang suka pamer dan cenderung curiga terhadap masyarakat lain. Tapi ini adalah tipe masyarakat yang percaya pada guna-guna. Dalam kadar tertentu, terutama dalam pesta kematian (Toraja) dan pesta perkawinan dalam Bugis dan Makassar, gejala ini dalam Bugis dan Toraja.

Kami mendengar informasi, upacara adat seperti rambu solo’ kini menjadi ajang adu gengsi antar klan di Tana Toraja dan menjadi sangat profan. Mengapa ini terjadi?
Nilai yang berlaku dalam rambu solo dan perkawinan bagi Bugis dan Makassar sama saja. Pesta ini menjadi ajang kontekstasi atau arena negosiasi strata sosial, tempat setiap individu atau keluarga mempertaruhkan harga diri. Di sini mereka mengetahui di lapisan sosial mana mereka berada. Tentu, dengan begitu, arena negosiasi ini sangat duniawi karena ditentukan oleh uang. Prestise keluarga benar-benar diuji di sini.
Rambu solo’ awalnya bagian dari praktik dalam aluk todolo, pada masa roh-roh leluhur dianggap sebagai jiwa-jiwa yang menggerakkan tatanan kehidupan dan alam. Maka digelarlah pesta sebagai bentuk pengurbanan orang-orang yang hidup kepada jiwa-jiwa yang dipercaya bisa mendatangkan petaka bagi kehidupan. Pesta dianggap sebagai bagian dari aluk todolo agar kehidupan berjalan wajar.
Makna rambu solo terus bergerak seiring dengan penyiaran nilai-nilai Nasrani di kalangan masyarakat Toraja. Kini konotasinya tidak lagi di bagian itu. Kini lebih pada arena sosial tadi.
Tapi itu sisi makronya. Di tingkat mikro, sisi kelam dari praktik-praktik seperti ini kita bisa rasakan dan lihat sendiri bagaimana keluarga kita harus berutang karena pesta-pesta. Kalangan masyarakat Bugis harus berutang karena menyelenggarakan pesta perkawinan. Begitu pula masyarakat Toraja, sering saya dengar keluarga teman-sanak kita melakukan hal yang sama untuk rambu solo’. 

Terakhir, bisakah dijelaskan bagaimana pewarisan budaya pada generasi muda Toraja sebaiknya dilakukan di tengah gempuran modernitas dewasa ini, karena kami melihat di setiap upacara adat hanya kaum tua saja yang ikut berperan?
Ini berhubungan erat dengan evolusi hukum dalam antropologi, mulai dari tahapan hukum keramat sebagai aturan dari nenek moyang. Hukum sekuler terjadi ketika hukum keramat kurang dipatuhi akibat besarnya jumlah penduduk. Pada tahap ini, diperlukan kekuasaan otoriter yang memunculkan raja.
Ketika manusia beragama dan penduduk makin banyak, maka kekuasaan raja tidak cukup. Karena itu, kekuasaan raja dipadu dengan sifat keramat yang menanamkan keyakinan kepada masyarakat bahwa raja adalah keturunan dewa (hukum keramat). Namun ketika berkembang masyarakat industri, dan masyarakat menjadi lebih individualis, hukum yang dibuat raja tidak lagi efektif. Olehnya itu, hukum kemudian dibuat oleh badan legislatif yang merupakan perwakilan dari masyarakat.
Semua masyarakat mengalami perubahan seperti ini, tak terkecuali Toraja. Tapi, saya pikir, di satu sisi, pewarisan budaya yang dimaksud terus berlangsung. Dalam perkawinan, anggota keluarga yang ‘reformis’, tidak lagi memegang adatnya dengan teguh, sadar akan konsekuensi sosial dari nilai yang mereka anut. Hal ini mengharuskan mereka, mau tidak mau, kembali dalam pola yang dipegang generasi sebelum mereka, kendati dengan beberapa modifikasi.
Contoh modifikasi yang saya maksud, kalau dulu orang ke pesta semata memakai pakaian hitam, kini ada yang hadir berpakaian hitam dengan gelang emas di tangan—sebagai tanda kepemilikan material. Ini semua demi menegaskan diri dalam ruang negosiasi strata sosial, yakni di dalam pesta.
read more...