Pemesanan Buku

Buku-buku yang terpajang di galeri ini bisa Anda dapatkan di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E (samping Kantor Lurah Pandang Kompleks CV Dewi), Makassar, T/F: 0411-433775, Layanan SMS 0856 5668 1100 atau email ke: distribusiininnawa@gmail.com
Latest Posts

Kamis, 24 Mei 2012

Identitas dalam Kekuasaan, Memindai Bugis dan Makassar dalam Berpolitik


Identitas dalam Kekuasaan 
Hibriditas Kuasa, Uang, dan Makna 
dalam Pembentukan Elite Bugis & Makassar
(Imam Muhajidin Fahmid)
Ininnawa-ISPEI
Juni 2012
343 hl + vi 
Rp 82.000

Bugis dan Makassar sebagai sama-sama percaya bahwa asal-usul elite politik mereka bermula dari mitos Tomanurung (pemimpin yang turun dari langit). Keduanya menginginkan pola hubungan antara penguasa dan masyarakat bersifat kontraktual. Ini berarti bahwa kendati secara simbolik masyarakat memberi otoritas yang besar kepada si pemimpin, namun di waktu yang bersamaan, pemimpin harus taat dengan kesepakatan yang diberikan sang pemberi simbol, yakni Tomanurung.

Kontrak politik ini mulai berlangsung pada abad ke-13 di jazirah selatan Pulau Sulawesi, yang tentu menyadarkan kita bahwa ini merupakan sebuah pencapaian yang mendahului teori Thomas Hobbes, yang hidup pada abad XVI-XVII dan Montesquieu seabad setelahnya, tentang kontrak sosial.

Tapi di luar dari pandangan itu, pola perilaku mereka dalam berpolitik sangat berbeda. Bagaimana dua suku ini menyikapi siri (harga diri) dan pacce (rasa senasib) dalam dunia politik? Seperti apa cara menggunakannya dalam konteks masa kini?

Karya Imam Muhajidin Fahmid ini membedah sejarah pergerakan di Sulawesi Selatan, termasuk tarik-menarik antara Sulawesi Selatan dan Jawa dalam pusaran kekuasaan nasional. Imam menarik garis itu yang, rupanya, berhubungan awal terbentuknya elite-elite politik dengan membandingkan dua daerah yang merepresentasikan Bugis dan Makassar, Bone dan Gowa. Dan tentu juga menarasikan bagaimana tiga unsur—kuasa, uang, dan makna—diberdayagunakan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dan politik.

Contoh yang menarik dan perlu kita simak bersama adalah studi kasus klan Page di Desa Tabba'e, di Bone yang berhasil mendobrak sistem kebangsawanan yang awam berlaku di kawasan ini, tatkala memasuki dunia politik.

Selamat membaca. Selamat memasuki dan memindai dunia politik Sulawesi Selatan!
read more...

Senin, 26 Maret 2012

Energi Alternatif, Buletin Payo-Payo edisi 2

Buletin Payo-Payo edisi II "Energi Alternatif" dapat Anda baca dan unduh di sini! Selamat membaca...
read more...

Kamis, 08 Maret 2012

Rambu Solo’, Jantung Kehidupan Toraja

Akhir Desember lalu, di Kelurahan Sereale, Kecamatan Tikala, Toraja Utara, seorang perantau yang sukses menggelar rambu solo’ dengan menyembelih ratusan ekor kerbau dan babi, dengan alasan agar masyarakat ‘kebagian daging’.

Dari peristiwa tersebut, ternyata status ekonomi bisa membuat seseorang menjadi terpandang meski menurut kepala adat tidak mampu menaikkan status sosial di masyarakat. Dalam tujuh tahun terakhir, rambu solo' kerap dijadikan ajang gengsi keluarga. Bahkan, beberapa rambu solo' diakomodasi oleh kepentingan kelompok tertentu, kekhidmatan pengantaran jenazah ke Puya pun perlahan memudar.

Dalam literatur-literatur tentang Toraja disebutkan bahwa pesta ini merupakan pesta mempersembahkan kurban bagi arwah leluhur. Dalam keyakinan aluk todolo, kepercayaan leluhur masyarakat Toraja, seseorang yang baru saja meninggal belum dianggap ‘benar-benar meninggal’ melainkan hanya sakit atau to makula’ (to = orang, makula’ = sakit). Sehingga, sang mendiang tetap disajikan makanan dan minumannya sebagaimana ketika masih hidup. Kematian semata perubahan dari hidup menjadi roh alam gaib. Selain makanan dan pakaian, pihak keluarga membekali sang arwah dengan segala perlengkapan upacara, hewan kurban, sampai harta benda.

Bagaimana dunia antropologi memandang fenomena ini? Berikut wawancara saya dengan antropolog Universitas Hasanuddin Makassar, Yahya MA, di kediamannya, Minggu, 5 Februari lalu.

Dalam perspektif antropologi, bagaimana mula terbentuk sistem kepercayaan Toraja yang ada sekarang?
Sistem kepercayaan masyarakat Toraja, seperti suku lain di Sulawesi Selatan, punya kepercayaan nenek moyang sendiri sebelum datangnya agama langit (Islam dan Kristen). Mereka melakukan pesta besar dalam siklus hidup, terutama kematian. Dalam kepercayaan ini diyakini bahwa roh-roh leluhur yang mengatur kehidupan. Keberuntungan dan kemalangan semua berasal dari restu roh-roh ini.
Islam lalu menyentuh dataran yang didiami oleh suku Bugis dan Makassar. Agama ini tidak melarang pesta. Tapi Islam menganjurkan untuk mengalihkan pesta dilakukan tidak pada kematian, tapi diubah menjadi pesta yang diperuntukkan pada tahapan mengawali hidup, yakni perkawinan.
Sementara Toraja, yang ada di pegunungan sebelah utara dan tidak tersentuh siar Islam, mempertahankan rambu soloperayaan dalam praktik kepercayaan aluk todolo yang menganggap puya, alam gaib/surga, itu punya tingkatan. Bila mengadakan pesta maka leluhur yang dipestakan dapat mencapai puya lapis tertinggi, dengan syarat menggelar pesta besar-besaran—yang tentu meniscayakan biaya yang besar pula.
Wajar bila yang kita saksikan sekarang, suku-suku ini menggunakan segala sumber daya mereka di kedua pesta ini.

Berdasar catatan kami, etnis Toraja termasuk salah satu suku perantau terbesar di Nusantara, bisa dijelaskan apa yang melatarbelakangi kecenderungan ini?
Toraja, Bugis, dan Makassar berimigrasi karena faktor-faktor seperti perkawinan yang mengharuskan pindah ke daerah lain, atau bisa juga karena keadaan sosial. Orang-orang yang berpindah ke tempat lain, sebagaimana sering terjadi di Sulawesi Selatan, mengalami trauma-trauma sosial, semisal terdapat anggapan yang sering kita dengar “belum jadi orang” yang lebih sering berkonotasi kekayaan material seseorang atau satu keluarga. Karena itulah mereka harus pindah sebab ingin membuktikan bahwa mereka bisa sukses, mengumpulkan harta, dengan bekerja keras.
Orang-orang inilah yang kemudian setelah meraih sukses kembali ke kampung mengadakan pesta. Mereka mengeluarkan biaya begitu besar untuk menegosiasikan ulang letak posisi sosial mereka. Di dalamnya kelak mereka memproklamirkan diri bagaimana dia sekarang kepada sanak keluarga atau orang sekitarnya. Karenanya, rambu solo bisa kita sebut sebagai ‘jantung’ masyarakat Toraja, seperti Susan Bolyard Millar yang menyebut perkawinan merupakan jantung kehidupan masyarakat Bugis.
Mungkin orang luar menganggap bahwa praktik ini praktik yang sangat konsumtif. Tapi sebenarnya, efek baik yang dibawa adalah kehidupan ekonomi masyarakat Toraja dipompa oleh praktik ini. Orang-orang yang hendak berpesta lalu membeli tedong bonga (kerbau belang, jenis yang dihargai ratusan juta), babi, bambu, dan sumber daya yang dimiliki orang Toraja sendiri.

Perilaku ini ‘istimewa’ atau gejala seperti ini terjadi juga di masyarakat lain?
Persis! Masyarakat Kwakiutle, Mexico, ada konsep yang bernama ‘potlach’ yang berarti gemar pamer kekayaan. Oleh Ruth Benedict disebut masyarakat yang bertipe megalomania paranoid. Mereka masyarakat yang suka pamer dan cenderung curiga terhadap masyarakat lain. Tapi ini adalah tipe masyarakat yang percaya pada guna-guna. Dalam kadar tertentu, terutama dalam pesta kematian (Toraja) dan pesta perkawinan dalam Bugis dan Makassar, gejala ini dalam Bugis dan Toraja.

Kami mendengar informasi, upacara adat seperti rambu solo’ kini menjadi ajang adu gengsi antar klan di Tana Toraja dan menjadi sangat profan. Mengapa ini terjadi?
Nilai yang berlaku dalam rambu solo dan perkawinan bagi Bugis dan Makassar sama saja. Pesta ini menjadi ajang kontekstasi atau arena negosiasi strata sosial, tempat setiap individu atau keluarga mempertaruhkan harga diri. Di sini mereka mengetahui di lapisan sosial mana mereka berada. Tentu, dengan begitu, arena negosiasi ini sangat duniawi karena ditentukan oleh uang. Prestise keluarga benar-benar diuji di sini.
Rambu solo’ awalnya bagian dari praktik dalam aluk todolo, pada masa roh-roh leluhur dianggap sebagai jiwa-jiwa yang menggerakkan tatanan kehidupan dan alam. Maka digelarlah pesta sebagai bentuk pengurbanan orang-orang yang hidup kepada jiwa-jiwa yang dipercaya bisa mendatangkan petaka bagi kehidupan. Pesta dianggap sebagai bagian dari aluk todolo agar kehidupan berjalan wajar.
Makna rambu solo terus bergerak seiring dengan penyiaran nilai-nilai Nasrani di kalangan masyarakat Toraja. Kini konotasinya tidak lagi di bagian itu. Kini lebih pada arena sosial tadi.
Tapi itu sisi makronya. Di tingkat mikro, sisi kelam dari praktik-praktik seperti ini kita bisa rasakan dan lihat sendiri bagaimana keluarga kita harus berutang karena pesta-pesta. Kalangan masyarakat Bugis harus berutang karena menyelenggarakan pesta perkawinan. Begitu pula masyarakat Toraja, sering saya dengar keluarga teman-sanak kita melakukan hal yang sama untuk rambu solo’. 

Terakhir, bisakah dijelaskan bagaimana pewarisan budaya pada generasi muda Toraja sebaiknya dilakukan di tengah gempuran modernitas dewasa ini, karena kami melihat di setiap upacara adat hanya kaum tua saja yang ikut berperan?
Ini berhubungan erat dengan evolusi hukum dalam antropologi, mulai dari tahapan hukum keramat sebagai aturan dari nenek moyang. Hukum sekuler terjadi ketika hukum keramat kurang dipatuhi akibat besarnya jumlah penduduk. Pada tahap ini, diperlukan kekuasaan otoriter yang memunculkan raja.
Ketika manusia beragama dan penduduk makin banyak, maka kekuasaan raja tidak cukup. Karena itu, kekuasaan raja dipadu dengan sifat keramat yang menanamkan keyakinan kepada masyarakat bahwa raja adalah keturunan dewa (hukum keramat). Namun ketika berkembang masyarakat industri, dan masyarakat menjadi lebih individualis, hukum yang dibuat raja tidak lagi efektif. Olehnya itu, hukum kemudian dibuat oleh badan legislatif yang merupakan perwakilan dari masyarakat.
Semua masyarakat mengalami perubahan seperti ini, tak terkecuali Toraja. Tapi, saya pikir, di satu sisi, pewarisan budaya yang dimaksud terus berlangsung. Dalam perkawinan, anggota keluarga yang ‘reformis’, tidak lagi memegang adatnya dengan teguh, sadar akan konsekuensi sosial dari nilai yang mereka anut. Hal ini mengharuskan mereka, mau tidak mau, kembali dalam pola yang dipegang generasi sebelum mereka, kendati dengan beberapa modifikasi.
Contoh modifikasi yang saya maksud, kalau dulu orang ke pesta semata memakai pakaian hitam, kini ada yang hadir berpakaian hitam dengan gelang emas di tangan—sebagai tanda kepemilikan material. Ini semua demi menegaskan diri dalam ruang negosiasi strata sosial, yakni di dalam pesta.
read more...

Senin, 06 Februari 2012

Payo-Payo dan Tiga Desa

Sekolah Rakyat Petani (SRP) Payo-Payo bekerjasama dengan Penerbit Ininnawa menerbitkan buletin. Lembaran informasi berisi laporan-laporan kegiatan Payo-Payo selama mendampingi tiga desa di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Versi cetak buletin ini sangat terbatas. Untuk penyebar luasan pekabaran ini, silakan buka tautan di bawah ini dan diunduh.

Selamat membaca. Bagikan tautan ini ke teman Anda.

Salam hangat!
read more...

Jumat, 02 Desember 2011

Narasi Islam di Asia Tenggara

Buku ini adalah hasil penyigian Thomas Gibson di Desa Ara, Bulukumba, Sulawesi Selatan—sebuah desa Makassar di ujung selatan jazirah Sulawesi. Penelitian ini membentangkan hasil studi apik tentang komunitas-komunitas kompleks di Asia Tenggara Kepulauan yang memeluk Islam sejak kurun waktu 1300-1600. Di dalam buku ini, Gibson memaparkan tentang gagasan kosmologikal kerajaan-kerajaan, kosmopolitan mistisisme dan hukum Islam, serta gagasan global pada negara birokratik modern.


Buku ini merupakan buku kedua profesor antropologi University of Rochester ini, setelah menulis Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 (Ininnawa, 2009). Hasil penelitian ini mendapat anugerah Clifford Geertz Prize tahun 2008 untuk kategori antropologi agama.


“ Sebuah capaian langka dalam hal menyingkap cara kerja pengetahuan simbolik dan teknik menunjukkan kekuatan rumusan teori klasik penyokong disiplin antropologi dengan gaya yang jarang terlihat akhir-akhir ini dalam tulisan etnografi ...”
Elizabeth Fuller Collins (Ohio University), Anthropology News


Sebuah kontribusi besar terhadap pemahaman kita tentang Islam di Asia Tenggara ... kepakaran Gibson dalam membaca dan menulis ulang sejarah lisan, kitab dunia Islam, kisah epik, silsilah kerajaan dan dokumen pemerintahan mempertontonkan bentuk terbaik dari kemampuan seorang ilmuwan, sebagaimana ia tunjukkan sebagai ahli antropologi sekaligus sejarawan. 
John T Sidel (London School of Economics), Journal of Islamic Studies


Sebuah kajian yang rumit dengan ambisi besar. Tom Gibson telah melanjutkan petualangannya dalam merajut ingatan dan tradisi Sulawesi untuk menggeledah beragam cara Islam ditafsirkan, dianut, dan didayagunakan dalam konteks tertentu di Asia Tenggara ... sebuah capaian besar.” 
Michael Laffan (Princeton University), Journal of the Economic and Social History of the Orient


“Proyek Gibson—juga relevan bagi sejarawan dan ahli antropologi yang mengkaji masyarakat lokal di Indonesia—adalah mengangkat kondisi lokal di Ara dalam kaitannya dengan perkembangan regional, nasional, dan global ... Penelitiannya yang membentang pada cakupan masa yang luas membuka kemungkinan-kemungkian baru, khususnya pada bidang ilmu yang masih jarang ditulis dan melakukan lintas-batas masa yang sangat disenangi para sejarawan: masa modern versus pra modern, masa kolonial, dan pasca kolonial.”
William Cummings (University of South Florida), Indonesia
read more...

Kamis, 09 Juni 2011

Tentang Makassar Nol Kilometer

MAKASSAR NOL KILOMETER
Editor: Anwar J. Rachman, M. Aan Mansyur, Nurhady Sirimorok
Penerbit: Ininnawa-Tanahindie
Juni 2011 (edisi revsi)
273 halaman

Walaupun ayah berasal dari Bali dan ibu dari Toraja, namun saya lahir dan besar di Makasar, sehingga boleh dikata Makassar adalah kampung halaman saya. Selama kurang lebih dua puluh delapan tahun menetap di kota yang terkenal dengan sebutan Anging Mamiri ini ternyata tak membuat saya menjadi seorang guide yang baik untuk teman-teman dari daerah atau negara lain yang sedang mengunjungi Makasar. Suatu ketika saya mengajak seorang teman dari Surabaya yang sedang bertugas di kota ini selama beberapa hari menikmati indahnya sunset pantai Losari.
Saat berjalan-jalan di trotoar sepanjang jalan Penghibur tersebut, tiba-tiba dia menanyakan mobil berwarna biru yang cukup banyak lewat di jalanan. Saya lalu menjelaskan bahwa itu adalah mobil angkutan umum yang di Makasar disebut dengan 'pete-pete'. Dia menganggukkan kepala dan sambil melangkahkan kakinya, dia kembali bertanya: "kenapa bisa disebut pete-pete?". Saya terdiam, lalu sambil mesem-mesem menjawab: " wah, kalau itu saya tidak tahu".
Sebagai orang yang menyebut diri orang Makasar, saya merasa malu tak bisa menjelaskan asal muasal kenapa angkot di sini disebut pete-pete, padahal saban hari saya menggunakan kendaraan ini untuk beraktifitas. Itu baru pete-pete, belum lagi dengan istilah-istilah atau fenomena yang terjadi di Makasar ini, banyak hal yang belum saya ketahui ternyata. Apalagi bagi pendatang yang mesti bekerja atau menghabiskan waktu selama beberapa minggu, bulan bahkan tahun, tentunya cukup kesulitan memahami dan beradaptasi dengan kota Makasar.
Beruntung, tak begitu lama keresahan saya segera terobati dengan hadirnya buku 'Makassar Nol Kilometer' yang dikeluarkan oleh Media Kajian Sulawesi bekerja sama dengan Penerbit Ininnawa. Sebuah buku yang menurut saya cukup lengkap mendokumentasikan budaya kontemporer Makasar, memotret berbagai kejadian dan fenomena yang (mungkin) hanya terdapat di Makasar. Bahkan dari buku ini saya menemukan jawaban mengapa angkutan umum di Makasar disebut pete-pete.
Sebagai orang Makasar, saya cukup akrab dengan sebagian besar tema-tema yang diangkat dalam tulisan ke-14 penulis muda di buku ini, namun hanya pada permukaannya saja. Seperti misalnya Payabo, saya sering mendengar orang menyebutkannya, tetapi saya baru mengetahui bahwa Payabo atau pemulung ini punya komunitas dan memiliki bahasa sendiri setelah membaca buku ini. Sama halnya sewaktu saya membaca bagian kuliner yang membahas tentang Legenda Sop Saudara. Sebagai seorang pencinta makanan Sulawesi Selatan, seminggu sekali biasanya saya bersama teman-teman atau keluarga menikmati hidangan yang mirip dengan Coto Makasar ini tanpa sedikitpun tahu mengapa dinamakan Sop Saudara. Barulah di buku tersebut saya mendapatkan penjelasannya.
Seorang kawan blogger yang baru beberapa bulan datang dari Jakarta bercerita kepada saya bahwa setelah membaca buku Makassar Nol Kilometer dia merasa sangat terbantu dalam beradaptasi dan bergaul dengan masyarakat kota Makasar. Awal-awalnya dia kesulitan memahami bahasa gaul dan istilah-istilah yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, seperti penggunaan kata tambahan 'mi, di, to, ko..' atau istilah 'atas dan bawah' yang menunjukkan lokasi daerah. Sekarang dia sudah cukup lancar menggunakan bahasa prokem Makasar dan sangat membaur dengan masyarakat sekitarnya.
Buku ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Komunitas yang membahas mengenai kelompok atau komunitas yang cukup menonjol di Makasar karena memiliki ciri khas sendiri, seperti supoter PSM yang terkenal dengan kefanatikannya pada tim Juku Eja-nya, penyabung ayam, payabo, dan lain-lain. Bagian berikutnya mengetengahkan Kuliner atau Makanan dan Minuman khas seperti Ballo, Songkolo Bagadang, Coto Makasar, Jalangkote', Sop Saudara, Pisang Epe', dan lainnya.
Bagian ketiga yakni Fenomena yang merekam berbagai kejadian yang terjadi sejak bertahun-tahun lalu yang menjadi kebiasan atau fenomena di kota ini. Bagi pemakai kendaraan di Makasar pasti sudah sering mengalami mobil-motor yang dikendarai atau ditumpangi mesti menepi bila menjumpai iring-iringan pengantar mayat, sebab bila nekad tak meminggirkan kendaraan kemungkinan besar mobil atau motor akan dipukuli dengan kayu yang dibawa oleh iringan motor-mobil pengantar mayat tersebut. Itu hanya salah satu fenomena yang ada, dibuku ini juga dibahas mengenai fenomena radio Gamasi yang menurut survey yang pernah dilakukan menduduki ranking tertinggi radio favorit di Sulsel, juga ada kisah berburu Cakar, Upacara Pernikahan, Bahasa Prokem, Pete-pete, dan lainnya. Bagian keempat yaitu Ruang yang memotret kisah bangunan dan tempat-tempat yang memiliki keunikan cerita tersendiri seperti Paotere, Pondokan Mahasiswa, Pasar Cidu, Pasar Senggol, Tanjung Bayang, dan sebagainya.
Membaca buku Makassar Nol Kilometer ini tak membuat kening berkerut sebab bahasa yang digunakan rata-rata adalah bahasa umum dan walaupun terdapat beberapa bahasa daerah atau bahasa prokem Makasar tetapi selalu diiringi dengan penjelasan dalam bahasa Indonesia sehingga memudahkan bagi pembaca yang bukan berasal dari Makasar. Berbagai model tulisan yang terdapat didalamnya, mengutip apa yang ditulis oleh editor, tak lain lantaran beranekanya latar belakang ke-14 penulisnya. Keberagaman model tulisan ini hanya membuat beberapa tulisan yang menjadi sedikit berbeda, misalnya tulisan Muh Nur Abdurrahman yang mengisahkan Suporter PSM dan tulisan Aan Mansyur mengenai Iringan Mayat. Oleh Aan Mansyur kisah pengantar iringan mayat ini dibuat menjadi seperti bagian dari sebuah cerpen keseharian seorang tokoh saya yang sedang menikmati kopi di sebuah café, sementara kisah suporter PSM ini dibuat dalam bentuk seperti laporan peliputan khusus. Tapi, perbedaan penulisan ini tadi tak membuat kita kehilangan detail atau informasi berharga mengenai topik-topik yang diangkat tersebut.
Pengalaman sebagian besar penulisnya yang sudah cukup sering menulis diberbagai media lokal di kota ini menjadikan buku ini layak untuk dijadikan sebagai buku wajib untuk Dinas Pariwisata Makasar dan masyarakat, utamanya yang tertarik dengan Antropologi atau Sosiologi sebab selain menjadi buku pertama yang mengkaji budaya-pop Makasar dan juga membuat kita lebih paham lagi akan budaya lokal terutama bagi orang-orang seperti saya yang mengaku sebagai seorang Makasar.
Usaha Media Kajian Sulawesi dan Penerbit Ininnawa yang memotret karnaval budaya-pop Makasar ini patut diacungi jempol. Pendokumentasian dalam bentuk tulisan ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan keberadaan suatu zaman dengan berbagai fenomena dan kejadian yang mungkin akan bertahan sampai cucu-cicit atau mungkin akan hilang dikemudian hari. Harga yang cukup terjangkau membuat buku Makassar Nol Kilometer ini sangat asyik dibaca sambil mengisi waktu menunggu waktu berbuka puasa atau sekedar menjadi bahan diskusi kecil-kecilan di warung kopi dekat rumah, atau buat kawan yang berkunjung ke Makasar pun sangat pas bila dioleh-olehi buku ini. Yang pasti, sejak membaca buku ini saya menjadi lebih pede untuk menemani kawan dari daerah lain yang datang berkunjung. Bagaimana dengan anda? 

(Ni Nyoman Anna Marthanti)
(Tulisan ini sejatinya resensi NNAM tak lama setelah penerbitan cetakan pertama buku ini. Sumber: http://bz.blogfam.com/2006/10/makassar_nol_kilometer.html, akses 2 Juni 2011)
read more...

Kamis, 02 Juni 2011

Lokalitas dalam Arus Global



MAKASSAR adalah sebuah kota metropolis. Kota yang tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, niaga dan jasa, tetapi juga menjadi arena bagi bertemunya orang-orang dengan latar kepentingan dan kebudayaan yang beragam. Pertemuan kepentingan dan kebudayaan yang beragam itu selain melahirkan corak kehidupan yang juga amat beragam, mewujudkan pula karakter kebudayaan yang akulturatif. Semangat tradisional hadir secara tindih-menindih dengan semangat modernitas.
Sebagian dari corak kehidupan kota Makassar yang beragam dan karakter kebudayaan yang akulturatif itulah yang dituangkan oleh sejumlah penulis dalam Makassar Nol Kilometer.
Secara umum buku ini menguak empat isu utama : komunitas, kuliner, fenomena, dan ruang. Walau demikian, keempat isu itu tidak digarap berdasarkan pretensi akademik yang lebih fokus menelaah hal-hal yang mainstream, tetapi lebih berorientasi bagi upaya merekam dan mengungkap denyut kehidupan yang khas dan unik di Kota Makassar.
Perihal kehidupan komunitas yang tergolong khas Makassar adalah kelompok maniak bola, pendukung separuh mati kesebelasan PSM. Mereka itu, sesaat setelah PSM keluar sebagai pemenang saat bertanding di lapangan Andi Mattalatta (dulu stadion Mattoanging), berkonvoi keliling kota dengan deru bunyi kendaraan yang memekak telinga tanpa peduli rambu lalu lintas, dan seolah kelompok mereka sajalah yang berhak atas jalan raya.
Gejala yang unik berlaku pula pada kelompok waria, mereka amat kreatif memperbaharui kode-kode komunikasi di antara mereka. Mereka yang kini setiap malam berkumpul di sudut lapangan Karebosi, tidak lagi mengerti kode komunikasi pendahulu mereka yang telah pensiun menggumuli kehidupan malam di Karebosi. Itu terjadi karena kode bahasa yang digunakan akan mereka perbarui manakala telah dipahami oleh komunitas lain di luar komunitasnya.
Hal yang lebih unik lagi adalah gaya hidup warga Makassar yang seolah terbelah dalam dua kutub ekstrim, yaitu Utara mewakili gaya hidup kelas menengah bawah dan Selatan mewakili kelas menengah atas. Misal, selera musik anak-anak Utara adalah dangdut. Akronim dari dendang orang-orang tersudut. Sementara anak-anak Selatan lebih mengapresiasi musik pop, country, rock, dan jazz.
Kuliner. Sungguhpun Kota Makassar telah diserbu oleh makanan-makanan impor, makanan fast food yang secara sosial mengemban citarasa kelas menengah atas, namun makanan-makanan khas yang merupakan warisan dari leluhur Bugis-Makassar, seperti pallu basa, coto, sop saudara, ikan bakar dan lainnya, tetap bertahan dan diminati oleh masyarakat. Karena itu makanan tersebut banyak disajikan di berbagai warung makan pojok hingga kelas restoran, dan bahkan selalu tersaji di setiap acara syukuran dan upacara yang bersangkut paut dengan siklus kehidupan (aqiqah, sunatan, perkawinan, dan juga upacara kematian). Gejala itu mengisyaratkan bahwa ada hal yang relatif sulit berubah dalam diri manusia – meskipun dihantam oleh arus kuat globalisasi – yakni selera makan. Memang, telah menjadi aksioma di kalangan ahli antropologi nutrisi bahwa jenis dan menu makanan yang selalu dikonsumsi oleh anak manusia sejak belajar mengonsumsi makanan di luar air susu ibu, hingga berusia balita akan membentuk selera makan mereka, dan selera makan itu sangat sulit berubah.
Isu yang berkenaan dengan fenomena yang juga unik di Kota Makassar adalah orang-orang yang mengantarkan mayat ke tempat pembaringannya yang terakhir. Raungan mobil ambulans di tengah jalan berada di tengah kendaraan para pengiring jenazah. Bagian depan mobil jenazah, kendaraan roda dua melaju dengan kecepatan rata-sekitar 70 km per jam, dan selain seolah mau menggunakan seluruh badan jalan, juga hendak menabrak seluruh pengguna jalan yang searah dan berlawanan arah dengannya. Kendaraan yang dilewatinya harus segera menyingkir ke sisi tepi jalan. Tak menyingkir, berarti siap menerima bala. Dari segi normatif agama, seyogyanya orang-orang yang berada di jalan dan sedang larut tenggelam dengan urusan duniawiah, saat berpapasan dengan mayat akan segera berefleksi tentang nisbinya dunia dan kemudian mendoakan almarhum/almarhumah agar selamat di haribaan ilahi, malahan yang terjadi adalah sebaliknya. Hatinya murka, dan acap terlontar ungkapan dari mulut mereka, “sudah meninggal masih menyusahkan orang”.
Perang antar kelompok, juga merupakan fenomena unik di Kota Makassar. Unik karena tidak hanya menjadi suatu kebiasaan bagi anak remaja yang bermukim di daerah slum, tetapi fenomena itu selalu muncul saat bulan ramadan—bulan suci, bulan penuh rahmat dan hidayat—saat mereka baru saja menunaikan salat tarawih dan salat subuh. Perang antar kelompok tercipta tidak lama setelah mereka menyebut asma Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang serta juga mengucapkan salam di akhir salat. Dua dari sekian banyak simbol ibadah yang mestinya dimaknai sebagai keharusan umat manusia berikhtiar mewujudkan kehidupan saling mengasihi di antara sesama, dan menyelamatkan seluruh ciptaan Allah dari kerusakan.
Fenomena tawuran di Kota Makssar, bukan melulu menjadi milik anak-anak yang tumbuh di daerah kumuh, melainkan diadopsi pula oleh mahasiswa di hampir seluruh perguruan tinggi di Makassar. Fenomena itu sungguh rumit dijelaskan dengan menggunakan logika normal. Sebab, selama ini mahasiswa diklaim sebagai generasi terdidik dan tercerahkan, tetapi tindakannya masih saja mengikuti naluri primitif.
Satu sisi dari tata ruang di Kota Makassar yang menarik adalah menjamurnya Mall dan tempat perbelanjaan modern lainnya. Hanya saja tulisan tentang itu lebih fokus pada riwayat kehadirannya di Kota Makassar, ketimbang dampaknya bagi warga kota yang mungkin sudah mulai terpapar dengan gaya hidup konsumtif dan hedonis, serta efeknya bagi keberadaan pasar tradisional. Serupa halnya dengan tulisan tentang pasar tradisional—pasar yang transaksinya dilakukan melalui proses tawar menawar antara pihak penjual dan pembeli—lebih mengungkap riwayat keberadaan pasar dan denyut kehidupan di seputar arena pasar. Kurang menyelam lebih jauh ke hal-hal yang dialami, dirasakan, dan diharapkan oleh pelaku-pelaku di pasar tesebut yang menjual barang yang juga dijual di Mall dan pasar modern lainnya.
Secara umum, buku ini memang mengungkapkan banyak hal tentang denyut kehidupan Kota Makassar, namun informasi yang dipaparkan terkesan lebih banyak didapatkan melalui pengamatan dan wawancara sambil lalu. Akibatnya kurang terungkap sisi dalam dari gejala-gejala kehidupan warga Kota Makassar. Walau demikian, buku ini telah memberikan sumbangan yang amat penting, setidaknya sebagai 'pembuka pintu' bagi para akademisi dan pemerhati kehidupan perkotaan untuk menyelam lebih dalam, dan mengungkapkan realitas yang tersembunyi di balik berbagai gejala sosial yang unik dan khas di Kota Makassar.
Terakhir, buku ini juga berguna buat orang-orang, utamanya dari luar Makassar, yang ingin tahu banyak hal-hal khas tentang Makassar. Layak dijadikan tour guide buat para pelancong, domestik atau internasional.


*Dosen Antropologi Universitas Hasanuddin, Makassar dari Panyingkul! (www.panyingkul.com) edisi Kamis, 10-08-2006.
read more...